POJOKBOGOR.ID – Setiap memasuki bulan Ramadan, istilah bukber atau buka puasa bersama hampir selalu muncul di berbagai kalangan masyarakat.

Mulai dari keluarga, teman sekolah, rekan kerja, hingga komunitas tertentu sering mengadakan acara bukber.

Tidak jarang seseorang bisa menerima banyak undangan buka puasa bersama dalam satu bulan Ramadan.

Bahkan sebagian orang merasa kewalahan karena harus menghadiri beberapa acara bukber sekaligus.

Baca Juga: Tradisi Berubah! Lebaran 2026, Gen Z Mulai Bagi THR ke Keluarga dan Adik-Adik

Namun di tengah tren tersebut, muncul satu pertanyaan yang cukup sering dibicarakan apakah bukber itu sebenarnya wajib dilakukan?

Pertanyaan ini sering muncul terutama ketika seseorang tidak bisa menghadiri undangan bukber karena berbagai alasan, seperti pekerjaan, kondisi keuangan, atau keterbatasan waktu.

Lalu bagaimana sebenarnya posisi bukber dalam tradisi Ramadan?

Bukber Bukan Kewajiban dalam Islam

Secara umum, buka puasa bersama bukanlah kewajiban dalam ajaran Islam.

Baca Juga: Taspen Ungkap 97 Persen Pensiunan ASN Sudah Terima THR Lebaran 2026, Penyaluran Makin Cepat Berkat Digitalisasi

Tidak ada aturan yang mewajibkan umat Muslim untuk mengadakan atau menghadiri acara bukber selama bulan Ramadan.

Yang menjadi kewajiban dalam Ramadan adalah menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari, serta memperbanyak amal ibadah lainnya.

Sementara itu, buka puasa bersama lebih dikenal sebagai tradisi sosial yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai kewajiban agama.

Namun meskipun tidak wajib, kegiatan ini tetap memiliki nilai positif jika dilakukan dengan niat yang baik.

Makna Sosial di Balik Bukber

Di Indonesia, bukber sering dimaknai sebagai momen untuk mempererat hubungan sosial.

Banyak orang memanfaatkan acara ini untuk bertemu kembali dengan teman lama, keluarga, atau kolega yang jarang bertemu di hari biasa.

Dalam konteks ini, bukber menjadi sarana untuk menjaga silaturahmi.

Baca Juga: Kisah Inspiratif! Nilai Tertinggi Tapi Gagal CPNS Dua Kali, Kisah Pria Ini Berakhir Tak Terduga, Kini Sukses Tanpa Gelar Tinggi

Silaturahmi sendiri merupakan salah satu nilai penting dalam kehidupan sosial umat Muslim.

Oleh karena itu, kegiatan bukber sering dianggap sebagai cara sederhana untuk memperkuat hubungan antarindividu.

Bagi sebagian orang, acara bukber juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang.

Tidak Perlu Memaksakan Diri

Meski bukber sering menjadi agenda populer selama Ramadan, para ahli sosial dan tokoh agama sering mengingatkan agar masyarakat tidak merasa terbebani oleh tradisi ini.

Baca Juga: Diliburkan Jelang Lebaran, Sopir Angkot Puncak Bogor Bakal Dapat Kompensasi Rp200 Ribu per Hari

Jika seseorang tidak dapat menghadiri acara bukber karena kesibukan atau kondisi tertentu, hal tersebut bukanlah sesuatu yang salah.

Bahkan dalam beberapa kasus, terlalu banyak menghadiri bukber justru dapat mengganggu fokus ibadah selama bulan Ramadan.

Beberapa orang juga merasa pengeluaran selama Ramadan meningkat karena sering menghadiri acara buka puasa bersama di restoran atau tempat makan tertentu.

Karena itu, penting untuk menyesuaikan kegiatan bukber dengan kondisi masing-masing.

Bukber yang Lebih Bermakna

Agar kegiatan buka puasa bersama tetap memberikan manfaat, banyak orang kini mulai memilih konsep bukber yang lebih sederhana dan bermakna.

Misalnya dengan mengadakan buka puasa bersama di rumah bersama keluarga, berbagi makanan dengan tetangga, atau mengadakan kegiatan sosial seperti berbagi takjil kepada masyarakat.

Konsep bukber seperti ini dinilai lebih sesuai dengan semangat Ramadan yang menekankan pada kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

Bahkan di beberapa komunitas, bukber juga dijadikan momen untuk menggalang donasi atau membantu mereka yang membutuhkan.

Fenomena Bukber di Kalangan Anak Muda

Di kalangan anak muda, bukber sering menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu selama Ramadan.

Baca Juga: Prediksi CPNS 2026 Menguat! Daftar Kementerian Sepi Peminat Ini Bisa Jadi Peluang Lolos Lebih Besar

Acara ini biasanya diisi dengan berbagai aktivitas seperti reuni kecil, berbagi cerita, hingga membuat konten di media sosial.

Tidak sedikit pula yang menjadikan bukber sebagai kesempatan untuk bertemu kembali dengan teman sekolah atau kampus yang sudah lama tidak bertemu.

Namun belakangan, muncul juga diskusi di media sosial tentang fenomena “bukber overload”, yaitu kondisi ketika seseorang menerima terlalu banyak undangan buka puasa bersama.

Fenomena ini membuat sebagian orang mulai lebih selektif dalam menghadiri acara bukber.

Baca Juga: Gaji Guru PPPK di Banjar Segera Cair, Pemkab Percepat Pergeseran Anggaran

Kembali ke Esensi Ramadan

Pada akhirnya, bukber hanyalah salah satu cara untuk menikmati kebersamaan selama bulan Ramadan.

Kegiatan ini tidak wajib dan tidak menentukan kualitas ibadah seseorang.

Yang terpenting dalam Ramadan adalah menjaga niat ibadah, meningkatkan ketakwaan, serta memperbanyak amal baik.

Jika bukber dapat mempererat silaturahmi dan membawa kebaikan, maka kegiatan tersebut tentu bisa menjadi hal yang positif.

Namun jika justru menimbulkan beban, maka tidak ada kewajiban untuk memaksakan diri.

Ramadan sendiri mengajarkan keseimbangan antara ibadah, kehidupan sosial, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, bukber sebaiknya dijadikan sebagai momen kebersamaan yang sederhana, bukan sebagai kewajiban sosial yang harus dipenuhi.***