PojokBogor.Id - Di balik populernya soto kuning, laksa, dan toge goreng, Bogor masih menyimpan kuliner khas yang jarang dikenal wisatawan, yakni doclang.

Makanan tradisional ini justru menjadi sarapan legendaris warga lokal yang telah bertahan dari generasi ke generasi.

Meski namanya tak setenar kuliner Bogor lainnya, doclang memiliki cita rasa khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Baca Juga: Semakin Meningkat, Fenomena Fatherless di Bogor Kini Mengkhawatirkan?

Doclang Bogor dikenal sebagai menu pagi hari yang sederhana namun mengenyangkan.

Dalam satu porsi, doclang berisi potongan lontong yang dibungkus daun patat, kentang rebus, tahu goreng, telur rebus, lalu disiram bumbu kacang kental yang gurih.

Sekilas tampilannya mirip kupat tahu, namun aroma dan rasanya sangat berbeda.

Baca Juga: Toge Goreng, Kuliner Khas Bogor yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar! Kamu Wajib Coba

Keunikan utama doclang terletak pada daun patat yang digunakan untuk membungkus lontong.

Daun ini memberikan aroma khas yang langsung terasa sejak lontong dibuka.

Ciri inilah yang membuat doclang memiliki identitas kuat sebagai kuliner asli Bogor, bukan sekadar variasi lontong berbumbu kacang.

Baca Juga: Laksa Bogor, Kuliner Berkuah Khas Kota Hujan yang Paling Dicari Saat Udara Dingin

Bagi warga lokal, doclang bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari rutinitas pagi.

Doclang kerap disantap sebelum memulai aktivitas, terutama di kawasan pasar, terminal, dan pusat kota.

Rasanya yang tidak terlalu berat membuat kuliner ini cocok dikonsumsi pagi hari, namun tetap cukup mengenyangkan hingga siang.

Meski termasuk kuliner lawas, keberadaan doclang Bogor kini semakin jarang ditemukan.

Penjualnya tidak sebanyak dulu dan umumnya hanya buka pada jam-jam tertentu di pagi hari.

Hal inilah yang membuat doclang terkesan “menghilang” dari radar wisatawan, meski masih setia dicari oleh pelanggan lama.

Baca Juga: Saat Kuliner Kekinian Datang dan Pergi, Laksa Bogor Masih Punya Penggemar Setia

Dalam beberapa tahun terakhir, doclang mulai kembali diperbincangkan setelah muncul di berbagai konten kuliner tradisional.

Banyak warganet mengaku baru mengetahui keberadaan doclang setelah melihat ulasan di media sosial.

Rasa penasaran itulah yang perlahan membuat doclang kembali dilirik, terutama oleh generasi muda.

Baca Juga: Datang dari Luar Kota, Ini Daya Tarik Sop Buntut Ma’emun yang Bikin Ketagihan!

Bumbu kacang doclang memiliki tekstur kental dengan rasa gurih dan sedikit manis. Tidak terlalu pedas, namun kaya rasa.

Beberapa penjual menambahkan emping atau kerupuk sebagai pelengkap, menambah sensasi renyah saat disantap.

Kombinasi bahan yang sederhana justru membuat setiap komponen terasa jelas.

Baca Juga: Sop Buntut Ma’emun Bogor, Kuliner Legendaris yang Selalu Diburu Saat Cuaca Dingin

Harga doclang juga relatif terjangkau, menjadikannya kuliner rakyat yang bisa dinikmati semua kalangan.

Inilah salah satu alasan mengapa doclang mampu bertahan lama meski tidak banyak berubah dari segi penyajian maupun rasa.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi lain kuliner Bogor, doclang bisa menjadi pilihan yang berbeda.

Menyantap doclang di pagi hari memberikan pengalaman autentik, seolah ikut merasakan kebiasaan warga lokal sebelum kota mulai ramai.

Di tengah maraknya kuliner modern dan makanan viral, doclang Bogor menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional tidak selalu harus tampil mencolok untuk bisa bertahan.

Selama rasa dan keasliannya dijaga, doclang akan terus hidup sebagai sarapan legendaris warga Bogor, meski jarang dikenal wisatawan.***