BOGOR.POJOKSATU.id - Fenomena fatherless di Bogor pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di banyak daerah lain di Indonesia, namun memiliki ciri khas yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat perkotaan–penyangga seperti Bogor.
Fatherless di sini tidak selalu berarti anak benar-benar tidak memiliki ayah, tetapi lebih pada ketiadaan peran ayah secara emosional, psikologis, dan pengasuhan dalam kehidupan anak sehari-hari.
Di Bogor, fenomena fatherless sering terlihat pada keluarga dengan ayah yang bekerja sangat panjang jam kerjanya, terutama mereka yang menjadi komuter ke Jakarta.
Banyak ayah berangkat subuh dan pulang larut malam, bahkan ada yang hanya benar-benar bertemu anak saat akhir pekan. Secara fisik ayah masih ada, namun keterlibatan dalam tumbuh kembang anak menjadi sangat minim.
Anak lebih banyak diasuh ibu, kakek-nenek, atau bahkan pengasuh, sehingga figur ayah terasa jauh dan kurang hadir.
Kondisi ini juga diperkuat oleh tekanan ekonomi. Di wilayah Bogor, terutama kawasan padat penduduk dan daerah penyangga industri, banyak ayah yang bekerja di sektor informal atau dengan sistem kerja tidak menentu.
Fokus utama ayah sering kali hanya pada memenuhi kebutuhan finansial, sementara aspek komunikasi, pendampingan emosi, dan pendidikan karakter anak kurang mendapat perhatian.
Akibatnya, peran ayah dipersepsikan sebatas “pencari nafkah”, bukan figur pengasuh.
Selain faktor pekerjaan, fenomena fatherless di Bogor juga muncul akibat perceraian. Angka perceraian di wilayah penyangga Jabodetabek, termasuk Bogor, tergolong tinggi.
Dalam banyak kasus, setelah perceraian, anak tinggal bersama ibu dan intensitas pertemuan dengan ayah semakin jarang.
Hubungan ayah dan anak menjadi renggang, bahkan ada yang terputus sama sekali, sehingga anak tumbuh tanpa keterlibatan figur ayah dalam pengambilan keputusan, pembentukan nilai, dan dukungan emosional.
Dampaknya cukup terasa pada anak dan remaja, Di lingkungan perkotaan Bogor, fenomena fatherless kerap dikaitkan dengan masalah kepercayaan diri, kesulitan mengontrol emosi, pencarian figur pengganti, hingga kecenderungan mencari validasi di luar rumah.
Pada remaja laki-laki, ketidakhadiran ayah dapat memengaruhi pembentukan identitas dan kedisiplinan, sementara pada remaja perempuan sering berdampak pada rasa aman dan pola relasi di kemudian hari.
Fenomena ini juga tercermin dalam lingkungan sekolah dan sosial. Guru dan pemerhati anak di Bogor kerap menemukan anak yang lebih dekat secara emosional dengan ibu, namun kurang mendapatkan figur otoritas yang seimbang di rumah.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara anak bersikap terhadap aturan, tanggung jawab, dan relasi sosial. ***



