BOGOR, POJOKBOGOR.id – Hujan deras yang mengguyur Kota Bogor pada Kamis (1/10/2026) malam kembali membuat kawasan Taman Yasmin, Bogor Barat, tergenang.
Air memenuhi sebagian badan jalan hingga kendaraan yang melintas harus menerobos genangan. Dalam rekaman warga, arus air terlihat cukup deras dan membuat ruas jalan sekilas menyerupai aliran sungai.
Kejadian tersebut kembali membuka persoalan lama di kawasan Yasmin.
Sebab, jauh sebelum genangan Kamis malam, Pemerintah Kota Bogor sudah beberapa kali menyoroti kapasitas dan kondisi saluran drainase di kawasan Yasmin, mulai dari saluran yang tersumbat sampah hingga usulan pembangunan sodetan baru.
Baca Juga: Festival Durian Sentul City Banjir Pengunjung, Rudy Susmanto Bidik Durian Bogor Tembus Pasar Global
Hingga Jumat (2/10/2026), belum ditemukan keterangan resmi BPBD maupun Dinas PUPR Kota Bogor yang secara khusus menjelaskan tinggi genangan, durasi air surut, maupun penyebab teknis kejadian di Taman Yasmin pada Kamis malam.
Namun catatan beberapa bulan terakhir menunjukkan kawasan ini memang pernah mengalami persoalan banjir lintasan.
Mei 2026, Banjir Yasmin Sampai Robohkan Tembok
Pada Mei 2026, hujan deras juga menyebabkan banjir di kawasan Jalan KH Abdullah bin Nuh, Yasmin.
Saat itu derasnya air bahkan mengakibatkan tembok pembatas di Perumahan Yasmin Sektor V roboh.
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin yang meninjau lokasi menyebut kejadian tersebut sebagai banjir lintasan.
“Ini banjir lintasan yang membuat air menggenang dan tembok di Perumahan Yasmin Sektor V roboh,” kata Jenal Mutaqin, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Mall BTM Bogor Banjir, Air Masuk ke Dalam Gedung saat Hujan Deras
Dalam pemeriksaan saat itu, salah satu persoalan yang ditemukan adalah tumpukan sampah yang menutup saluran air sehingga air meluap.
Jenal kemudian meminta Dinas PUPR dan aparatur wilayah tidak hanya melakukan penanganan sementara, tetapi mencari solusi jangka panjang.
Ia mengingatkan tanpa penyelesaian menyeluruh, banjir berpotensi kembali terjadi.
Yasmin Sektor 6 Pernah Masuk Prioritas Drainase
Empat hari setelah peninjauan tersebut, Pemkot Bogor kembali memasukkan kawasan Yasmin dalam daftar titik yang mendapat perhatian terkait drainase.
Perumahan Yasmin Sektor 6 disebut mengalami persoalan saluran yang tersumbat sampah. Debit air yang meningkat saat hujan bahkan pernah menjebol dinding pembatas antara kawasan perumahan dan jalur protokol.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim kala itu meminta mitigasi dan pemetaan dilakukan di titik-titik yang memiliki risiko banjir.
Baca Juga: Bupati Bogor Rudy Susmanto segera Benahi Irigasi Penyebab Banjir di Parung dan Ciseeng
“Antisipasi perubahan cuaca dan hujan dengan curah hujan ekstrem sudah menjadi keharusan,” kata Dedie Rachim, Minggu (24/5/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan air di Yasmin bukan hanya berkaitan dengan besarnya hujan.
Kemampuan saluran menerima limpasan air serta kondisi drainase menjadi faktor yang sebelumnya sudah masuk evaluasi pemerintah kota.
Pemkot Sempat Usulkan Sodetan Baru
Persoalan yang lebih kompleks muncul pada kawasan Yasmin menuju Tanah Sareal.
Dalam apel Pemerintah Kota Bogor pada Mei 2026, Dedie secara khusus menyinggung saluran di kawasan Yasmin.
Menurut Pemkot, sebagian drainase di kawasan itu berada pada koridor jalan nasional. Jika kapasitas saluran tidak lagi mampu menerima debit air, salah satu solusi yang direkomendasikan adalah membuat sodetan baru.
Baca Juga: Pemkab Bogor Percepat Penanganan Banjir di Wilayah Utara dengan Normalisasi Saluran Irigasi
“Saya minta saluran drainase diperlebar atau dibesarkan kapasitasnya,” ujar Dedie Rachim, Senin (25/5/2026).
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyoroti penumpukan sampah pada saluran.
Artinya, solusi banjir Yasmin memiliki setidaknya dua sisi: pemeliharaan saluran yang sudah ada dan evaluasi apakah kapasitas infrastruktur drainasenya masih memadai menghadapi limpasan air ketika hujan deras.
Perempatan Yasmin Berstatus Jalan Nasional
Ada faktor lain yang membuat penanganan kawasan Yasmin tidak sesederhana membersihkan saluran.
Pemkot Bogor menyatakan kawasan Perempatan Yasmin merupakan ruas jalan nasional. Karena status tersebut, tidak seluruh pekerjaan fisik dapat langsung dikerjakan menggunakan kewenangan dan anggaran Pemerintah Kota Bogor.
Dedie sebelumnya menjelaskan perbedaan kewenangan memang menjadi salah satu tantangan penanganan infrastruktur.
Baca Juga: Pemkot Bogor Siapkan Normalisasi Drainase di Sejumlah Titik Rawan Banjir Lintasan
“Tidak semuanya menjadi kewenangan Pemerintah Kota Bogor,” ujar Dedie Rachim, Senin (1/6/2026).
Untuk persoalan pada ruas yang bukan menjadi aset Kota Bogor, penanganan menyeluruh membutuhkan koordinasi dengan instansi pemilik jalan.
BPBD Kota Bogor tetap dapat melakukan antisipasi dan penanganan dampak, tetapi pekerjaan infrastruktur permanen harus menyesuaikan kewenangan masing-masing instansi.
Hujan di Bogor Sudah Diprediksi Sejak Pagi
Genangan pada Kamis malam juga terjadi pada hari ketika BMKG sebelumnya sudah memprakirakan adanya potensi hujan di wilayah Bogor.
Untuk Kota Bogor, hujan ringan diprakirakan terjadi di enam kecamatan, termasuk Bogor Barat dan Tanah Sareal.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini Jawa Barat pada Kamis (1/10/2026) mengenai peluang hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah.
Menariknya, BMKG menyebut kondisi atmosfer secara umum pada awal Oktober masih relatif kering. Namun hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang, yang dapat disertai petir dan angin kencang, tetap bisa muncul dan memicu dampak seperti genangan.
Kondisi ini membuat hujan deras dalam waktu relatif singkat tetap perlu diantisipasi meskipun musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.
Kota Bogor Sudah Punya Perda Drainase
Kota Bogor sebenarnya telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.
Regulasi itu dibuat antara lain karena perkembangan kawasan perkotaan menyebabkan wilayah terbangun meningkat sementara daerah resapan berkurang.
Perda tersebut juga secara khusus menyinggung persoalan debit banjir, genangan, penyempitan hingga pendangkalan saluran sebagai masalah yang memengaruhi kinerja sistem drainase kota.
Karena itu, kejadian seperti di Taman Yasmin menjadi pengingat bahwa persoalan genangan bukan sekadar soal bagaimana air surut setelah hujan berhenti.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kapasitas saluran, konektivitas drainase, kebersihan saluran dan pembagian kewenangan pengelolaan jalan sudah mampu mengimbangi perkembangan kawasan tersebut.
Bukan Pertama Kali, Solusi Permanen Jadi Sorotan
Genangan Kamis malam belum dapat langsung disimpulkan memiliki penyebab yang sama dengan kejadian Mei lalu sebelum pemeriksaan teknis dilakukan.
Namun rekam jejak sebelumnya menunjukkan Yasmin memang pernah masuk perhatian pemerintah dalam penanganan banjir lintasan dan drainase.
Pada Mei, pemerintah bicara normalisasi.
Kemudian muncul rekomendasi pelebaran kapasitas drainase dan pembangunan sodetan baru.
Pada Juni, Pemkot kembali mengingatkan bahwa sebagian titik Yasmin berada pada ruas jalan nasional sehingga membutuhkan koordinasi lintas kewenangan.
Kini, empat bulan kemudian, air kembali menggenangi jalan setelah hujan deras.
Kejadian Kamis malam membuat satu pertanyaan kembali relevan: sejauh mana rencana penanganan jangka panjang drainase Yasmin sudah berjalan dan mampu mencegah genangan berulang ketika hujan deras kembali turun?



