POJOKBOGOR.id - Meski sempat diguyur hujan namun tidak menyurutkan warga Bogor yang ingin menyaksikan langsung pertunjukan helaran Hari Jadi Bogor, atau HJB ke 543 tahun di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bogor pada Sabtu malam 28 Juni 1985.
Ratusan warga tumpah memadati kawasan jalan protocol yang telah dirubah menjadi panggung budaya terbuka Helaran ari Jadi Bogor atau HJB ke 543.
Helaran HJB ke 543 menghadirkan parade budaya yang menampilkan 36 kontingen seni dan tradisi dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Musisi Jalanan Kota Bogor Ramaikan Taman Sempur dengan Festival Musik
Pawai budaya HJB ke 543 ini menampilkan aneka atraksi yang memikat mata: dari tari tradisional Sunda dan kostum adat Papua, hingga iringan musik khas Betawi dan lenggak-lenggok busana dari tanah Jawa.
Penonton bersorak kagum saat rombongan bergiliran menampilkan kekayaan warisan budaya dalam balutan lampu sorot malam.
Bukan hanya dari Kota Bogor, para peserta juga datang dari berbagai komunitas budaya lintas daerah serta Malaysia.
Baca Juga: Pemkot Bogor Gaungkan Cinta Kampung Lewat 'Deudeuh Kalembur', Lingkungan Bersih Silaturahmi Terjaga
Panggung kirab HJB ke 543 ini menjadi bukti keberagaman budaya bisa hidup berdampingan dalam satu kota.
"Tahun ini, helaran diikuti kurang lebih oleh 36 peserta dari berbagai komunitas. Tamu istimewa juga hadir dari Kabupaten Bogor, yang secara khusus kami undang untuk berpartisipasi," ungkap Wali Kota Bogor Dedie Rachim.
Kostum menjadi sorotan tersendiri, para anggota OPD Kota Bogor ikut tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai provinsi. Ada yang tampil dengan pakaian kebesaran Sunda, ada pula yang menonjolkan motif khas Papua dan Kalimantan.
Baca Juga: Rayakan HJB ke 543, Ribuan Warga Padati Alun Alun Kota Bogor Nobar
"Kami juga mewajibkan seluruh OPD untuk memakai kostum budaya Nusantara. Contohnya, baju tradisional yang saya pakai 'Demang Sunda' atau busana yang biasa dikenakan oleh pegawai pemerintah di masa lalu," bebernya.
Tak sedikit penonton yang mengabadikan momen ini dengan kamera ponsel mereka. Sepanjang jalan, sorak-sorai penonton berpadu dengan dentuman alat musik tradisional, menciptakan atmosfer meriah yang menghapus dinginnya malam dan gerimis yang sempat mengguyur.
Parade budaya dalam helaran HJB ke 543 bukan hanya seremonial, tapi juga ajang yang memperkuat identitas dan kebanggaan warga akan keberagaman Indonesia yang menyatu di Bogor.


.webp)
