POJOKBOGOR.id - Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Kota Bogor pada Senin siang (4/11/2025) menimbulkan insiden menegangkan di Jalan Raya Pajajaran, Bogor Timur.
Sebuah pohon besar tumbang dan menimpa satu unit angkot trayek 09 jurusan Sukasari–Warung Jambu.
Angkot itu ringsek di bagian atap dan kaca depan, namun beruntung dua orang di dalamnya yang merupakan sopir dan penumpang, Joshua Saragih dan Minggus berhasil menyelamatkan diri.
“Posisi kami pelan banget karena hujan besar dan angin kencang. Tiba-tiba pohon di depan ambruk, langsung nyangkut ke mobil. Suara ‘bruk’-nya keras banget,” cerita Minggus masih dengan nada gemetar.
Joshua yang duduk di bangku depan kiri sempat terjebak tapi berhasil keluar lewat sisi kanan.
“Saya kena serpihan kaca sedikit, tapi nggak apa-apa. Yang penting selamat,” ujarnya lega.
Kepala BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, menjelaskan bahwa hujan dan angin kencang sekitar pukul 13.30 WIB membuat pohon besar di tepi jalan tumbang dan menutup sebagian ruas jalan.
“Petugas Damkar, BPBD, dan Dishub langsung mengevakuasi pohon serta kendaraan yang tertimpa,” ujarnya di lokasi.
Akibat kejadian itu, arus lalu lintas sempat lumpuh dan diberlakukan sistem contraflow. “Selain di Pajajaran, kami juga menerima laporan pohon tumbang di kawasan Simpang Garuda dan Villa Duta,” tambah Dimas.
Insiden ini terjadi hanya sehari setelah peringatan dini dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Barat yang memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor untuk periode 3–9 November 2025.
Forecaster BMKG Dramaga, Alita Nuraeni, mengonfirmasi bahwa angin di wilayah Bogor memang terpantau sangat kuat.
“Data kami di AAWS Dramaga mencatat kecepatan angin mencapai 55,08 km/jam dari arah barat daya pukul 13.50 WIB,” jelas Alita.
BMKG menilai, kondisi ekstrem ini terjadi karena suhu muka laut di perairan Jawa Barat yang relatif hangat, nilai Dipole Mode Index (DMI) negatif (-1.61), serta labilitas atmosfer yang tinggi.
“Faktor-faktor ini mendukung pembentukan awan hujan masif di wilayah Bogor,” lanjutnya.
Secara global, BMKG juga mencatat indikasi awal fenomena La Niña lemah, dengan anomali suhu muka laut di Pasifik Tengah mencapai -0.61 pada Oktober.
“Respon atmosfer menegaskan bahwa La Niña lemah telah terjadi,” kata Alita.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
“Tetap tenang, tapi selalu waspada dan pantau pembaruan informasi cuaca dari kanal resmi BMKG,” tutupnya.




