POJOKBOGOR.id – Temuan mengejutkan datang dari hasil uji laboratorium terkait kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Kota Bogor.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memastikan bahwa bakteri Escherichia coli (E. Coli) dan Salmonella tidak hanya terdapat dalam sampel makanan, tetapi juga ditemukan pada muntahan pasien yang terdampak.

Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno, menyampaikan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menyebutkan kedua bakteri tersebut terdeteksi pada menu telur dan tumis toge jagung, serta pada muntahan pasien korban dugaan keracunan massal yang terjadi Selasa (6/5/2025) lalu.

“Dua jenis bakteri, yakni E. Coli dan Salmonella, ditemukan pada makanan dan muntahan pasien,” kata Retno, Selasa (13/5/2025).

Retno menjelaskan, E. Coli sebenarnya merupakan bakteri yang hidup secara alami di usus manusia dan hewan.

Namun, ada jenis tertentu seperti E. Coli O157\:H7 yang berbahaya karena dapat menghasilkan racun Shiga dan menyebabkan infeksi serius pada saluran pencernaan.

Gejala yang bisa muncul antara lain:

• Diare (bisa berdarah)

• Sakit perut atau kram

• Mual dan muntah

• Demam ringan

• Perut kembung

Sumber kontaminasinya bisa berasal dari buah dan sayuran mentah yang tidak dicuci bersih, serta air yang tercemar.

Sementara itu, bakteri Salmonella umumnya ditemukan dalam makanan seperti telur mentah atau setengah matang, daging ayam, daging sapi yang kurang matang, produk susu yang belum dipasteurisasi, serta air minum yang tidak higienis.

Gejala akibat infeksi Salmonella meliputi:

• Diare (kadang disertai lendir atau darah ringan)

• Demam

• Kram perut

• Mual dan muntah

• Sakit kepala dan nyeri otot

Gejala biasanya muncul dalam waktu 6 hingga 72 jam setelah paparan, dan bisa berlangsung selama 4 hingga 7 hari.

Menindaklanjuti hasil temuan ini, Dinkes Kota Bogor telah menyusun sejumlah langkah:

• Memantau perkembangan kasus hingga tidak ditemukan lagi pasien baru

• Memberikan pengobatan dan rujukan ke rumah sakit sesuai kebutuhan

• Memperketat pengawasan dalam proses pengolahan makanan

• Memastikan SPPG (penyedia MBG) menerapkan standar operasional yang ketat

• Berkoordinasi dengan sekolah dan rumah sakit untuk penanganan dan antisipasi lanjutan

Retno mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, terutama dalam proses pengolahan dan penyajian.

“Kalau mengalami gejala setelah makan, segera ke Puskesmas terdekat atau hubungi layanan PSC 119,” pungkasnya.

Pantau terus perkembangan kasus ini di situs resmi Dinkes atau kanal berita terpercaya. Kesehatan dimulai dari dapur, pastikan makanan Anda aman sebelum dikonsumsi.***