BOGOR.POJOKSATU.id - Pemerintah Kota atau Pemkot Bogor kembali mengaktifkan rencana pembangunan Stoplet Sukaresmi yang berlokasi di Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Stoplet merupakan istilah untuk menyebut titik transit atau stasiun kecil yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian dan distribusi penumpang.

Tujuan utama pembangunan Stoplet Sukaresmi ini adalah membagi arus penumpang dari wilayah barat dan utara Bogor agar tidak semuanya harus menuju pusat kota.

Meski demikian, hingga kini realisasi pembangunan stoplet tersebut masih belum jelas.

Kondisi Stasiun Bogor sendiri kerap padat karena menjadi stasiun terakhir pemberhentian KRL dari arah Jakarta.

Kepala Stasiun Bogor, Mardiono, menyebutkan jumlah penumpang di stasiun ini bisa mencapai 90 ribu orang setiap bulannya, atau sekitar 3 ribu orang per hari.

Mayoritas penumpang keluar melalui pintu barat di Jalan Mayor Oking.

Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, mengungkapkan bahwa Pemkot telah menyiapkan lahan seluas 1,6 hektare untuk pembangunan Stoplet Sukaresmi. Sejak awal, lahan ini memang diproyeksikan untuk menjadi stasiun transit tersebut.

Stoplet Sukaresmi diharapkan dapat memecah konsentrasi mobilitas penumpang dari Bogor Utara dan Bogor Barat sehingga mereka tidak perlu lagi turun di Stasiun Bogor.

Penumpang yang tinggal di kedua wilayah tersebut dapat langsung turun di Sukaresmi.

Selain itu, stoplet ini juga diusulkan untuk menjadi stasiun khusus pengangkutan hasil pertanian dari Bogor Barat dan Bogor Utara.

Masih banyak petani di kawasan tersebut yang memproduksi komoditas pertanian, sehingga bila tersedia akses angkutan langsung menuju Jakarta, hal ini akan sangat membantu distribusi hasil bumi mereka. ***