BOGOR.POJOKSATU.id - Lonjakan kasus dugaan campak mulai menjadi perhatian serius di Kota Bogor. Dinas Kesehatan mencatat, sepanjang periode 26 Januari hingga 22 Maret 2026, terdapat 1.318 kasus suspek campak yang dilaporkan di berbagai wilayah.
Wilayah dengan jumlah kasus tertinggi berada di Bogor Barat dengan 293 kasus. Angka tersebut disusul Tanah Sareal sebanyak 167 kasus, serta Bogor Selatan yang mencatat 141 kasus.
Sebagian besar laporan kasus berasal dari fasilitas rumah sakit dengan kontribusi sekitar 75 persen, sementara sisanya, 25 persen, dilaporkan oleh puskesmas.
Dari total kasus yang ada, sekitar 61 persen merupakan warga Kota Bogor, sedangkan sisanya berasal dari luar daerah.
Untuk menekan penyebaran, Dinas Kesehatan Kota Bogor mempercepat program imunisasi campak dan rubella (MR) melalui kegiatan Catch-Up Campaign.
Upaya ini dilakukan secara masif, mulai dari layanan di puskesmas, posyandu, hingga metode jemput bola dengan mendatangi rumah warga.
“Lebih dari 2.300 anak sudah mendapatkan imunisasi melalui berbagai layanan, termasuk sweeping dari rumah ke rumah,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena.
Ia menegaskan bahwa campak bukan penyakit ringan dan dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak yang belum memiliki kekebalan.
“Campak adalah penyakit menular yang bisa berbahaya. Kami mengimbau orang tua memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta lebih waspada terhadap gejala awal seperti demam tinggi dan munculnya ruam merah pada kulit.
Jika mengalami tanda-tanda tersebut, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah cepat melalui imunisasi dan peningkatan kewaspadaan diharapkan mampu menekan laju penyebaran campak di Kota Bogor dalam waktu dekat.***



