POJOKBOGOR.id – Gerakan penghijauan di Sentul City memperlihatkan pola yang berbeda: kegiatan lingkungan tidak hanya melibatkan perusahaan, tetapi juga warga, komunitas dan berbagai unsur masyarakat.

Konsep “Grow Together, Green Together” menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai kelompok dalam satu aktivitas penghijauan.

Laporan kegiatan Hari Pelanggan Nasional 2026 menyebut peserta berasal dari tim internal, warga sekitar, komunitas, pemerintah desa, RT/RW, Karang Taruna hingga komunitas lari.

Baca Juga: Sudah 20 Ribu Mangrove Ditanam, Pertamina dan Masyarakat Terus Hijaukan Pesisir Sedari Karawang

 

Kolaborasi menjadi bagian penting

Kegiatan penghijauan memiliki satu kelemahan jika hanya mengandalkan satu penyelenggara.

Ketika kegiatan selesai, tanggung jawab perawatan juga berpotensi ikut berhenti.

Karena itu, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang tanaman mendapat perhatian setelah penanaman.

Pola serupa sebenarnya sudah terlihat dalam kegiatan lingkungan Sentul City sebelumnya.

Pada 2025, kegiatan penghijauan melibatkan PT Sentul City Tbk, mitra kawasan serta sejumlah komunitas dan lembaga lain.

Pada 2024, gerakan replanting juga melibatkan komunitas pecinta tanaman sebagai bagian dari penghijauan kawasan.

Baca Juga: XLSMART Perluas Jaringan 5G Nasional, SMARTFREN Bawa Unlimited 5G dan Pengalaman Baru di Surabaya

 

Warga bukan hanya penonton

Keterlibatan warga membuat isu lingkungan menjadi lebih dekat.

Masyarakat tidak hanya diminta menikmati kawasan hijau, tetapi ikut menjaga dan menambahnya.

Dalam konteks kota yang terus berkembang, pendekatan tersebut menjadi penting.

Semakin banyak ruang terbangun, semakin besar kebutuhan terhadap ruang hijau dan area yang nyaman untuk aktivitas warga.

Baca Juga: KRL Bogor ke Jakarta Kota Terganggu Hari Ini, Perjalanan Dialihkan hingga Manggarai

 

Pemkab Bogor juga mengejar gerakan serupa

Pola kolaboratif tersebut sejalan dengan gerakan penghijauan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Pemkab Bogor mendorong target hutan kota di berbagai kecamatan dan bahkan mengembangkan gerakan “Selasa Menanam” dengan melibatkan Perhutani, pelaku usaha, pengelola wisata serta berbagai elemen masyarakat.

Bupati Bogor Rudy Susmanto juga sebelumnya mengajak masyarakat menjaga pohon yang telah ditanam.

“Setiap pohon yang kita tanam hari ini adalah warisan untuk masa depan,” kata Rudy saat kegiatan perawatan hutan kota Pakansari.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa penghijauan membutuhkan keterlibatan setelah seremoni.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Bogor Jumat, 4 September 2026: Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Sore

 

Ada nilai sosial di balik pohon

Penanaman pohon akhirnya bukan hanya soal lingkungan.

Ketika warga, komunitas dan perusahaan mengerjakan sesuatu bersama, terbentuk pula ruang interaksi sosial.

Senam bersama, sarapan, menanam pohon dan kegiatan komunitas membuat gerakan lingkungan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga.

Karena itu, “Grow Together, Green Together” bisa dibaca bukan hanya sebagai kampanye penghijauan.

Baca Juga: RSUD Kota Bogor Tembus 12 Besar WJIC 2026, Peluang Investasi Makin Terbuka

Ini juga merupakan upaya membangun kebiasaan bahwa kawasan yang sehat tidak cukup dibangun oleh pengelola, tetapi harus dirawat bersama oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.