BOGOR.POJOKSATU.id — Di saat sejumlah wilayah Bogor diguyur hujan deras dalam dua hari terakhir, kondisi berbeda justru dialami warga di perbatasan Kecamatan Citeureup dan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.
Warga di wilayah tersebut masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat dampak kekeringan.
Kondisi ini membuat sebagian warga terpaksa memanfaatkan aliran Sungai Cileungsi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah warga terlihat mandi hingga mencuci motor di pinggir aliran sungai pada Senin, 22 Juni 2026.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan kekeringan belum sepenuhnya teratasi di sejumlah titik Kabupaten Bogor.
Keterbatasan air bersih membuat warga tidak memiliki banyak pilihan.
Air sungai akhirnya digunakan untuk kebutuhan harian, seperti mandi, mencuci, hingga membersihkan kendaraan.
Aktivitas warga di pinggir Sungai Cileungsi terlihat di wilayah perbatasan Kampung Bojong Engsel, Desa Tarikolot, dengan Kampung Lemper, Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.
Meski sebagian wilayah Bogor sudah diguyur hujan, warga di kawasan tersebut masih merasakan sulitnya memperoleh air bersih.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan yang turun belum cukup merata atau belum mampu memulihkan ketersediaan sumber air warga.
Kekeringan Masih Dirasakan di Perbatasan Citeureup dan Klapanunggal
Wilayah perbatasan Citeureup dan Klapanunggal menjadi salah satu kawasan yang terdampak kesulitan air bersih.
Warga yang biasanya mengandalkan sumber air sekitar kini harus mencari alternatif lain.
Sungai menjadi pilihan terakhir karena kebutuhan air tidak bisa ditunda.
Air bersih dibutuhkan setiap hari untuk memasak, mandi, mencuci pakaian, membersihkan rumah, hingga menjaga kebersihan keluarga.
Saat pasokan air bersih berkurang, aktivitas harian warga ikut terganggu.
Kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor menjadi pengingat bahwa akses air bersih masih menjadi persoalan penting.
Ketika musim kemarau datang, warga di daerah tertentu bisa dengan cepat terdampak.
Kondisi ini membutuhkan kesiapan pemerintah daerah, BPBD, perangkat desa, dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi.
Mulai dari pemantauan sumber air, penyaluran bantuan air bersih, hingga penyediaan solusi jangka panjang agar warga tidak terus mengalami krisis air saat kemarau.***



