POJOKBOGOR.id - Puskesmas Tamansari menghadirkan inovasi pelayanan kesehatan bertajuk TBC Keep Going (Konsumsi Efektif, Patuh, Gas Terus Obat Hingga Sembuh) sebagai upaya meningkatkan kepatuhan pasien Tuberkulosis (TBC) dalam menjalani pengobatan secara tuntas.

Program ini menjadi langkah strategis dalam mendukung percepatan eliminasi TBC nasional tahun 2030.

Program TBC Keep Going dirancang sebagai sistem pendampingan pasien berbasis kolaborasi tenaga kesehatan, keluarga, dan pemanfaatan teknologi komunikasi seperti aplikasi WhatsApp.

Fokus utama inovasi ini adalah mencegah pasien putus obat yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pengendalian TBC di Indonesia.

Dasar Hukum Pelaksanaan

Pelaksanaan inovasi TBC Keep Going mengacu pada sejumlah regulasi, antara lain:

• Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pemerintahan Daerah Kabupaten dalam Lingkup Provinsi Jawa Barat.

• Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

• Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan.

• Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan.

• Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas.

• Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.

Tantangan Besar Penanggulangan TBC

Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular dengan angka kasus tinggi di Indonesia.

Permasalahan utama yang dihadapi saat ini adalah rendahnya kepatuhan pasien dalam menyelesaikan pengobatan.

Banyak pasien menghentikan konsumsi obat sebelum dinyatakan sembuh, sehingga meningkatkan risiko resistensi obat dan penyebaran penyakit di masyarakat.

Indonesia bahkan saat ini menempati posisi sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India.

Berdasarkan data Global Tuberculosis Report dan Kementerian Kesehatan, estimasi kasus baru TBC di Indonesia mencapai sekitar 1,06 hingga 1,1 juta kasus setiap tahun.

Sepanjang tahun 2024, capaian notifikasi kasus berhasil mencapai rekor tertinggi dengan sekitar 889 ribu hingga lebih dari 1 juta kasus ditemukan dan diobati.

Namun demikian, angka kematian akibat TBC masih tergolong tinggi, yakni sekitar 134 ribu kematian per tahun atau sekitar 14 hingga 15 orang meninggal setiap jam.

Angka yang cukup mengerikan untuk penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan jika pengobatan dijalani dengan disiplin.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030 dengan strategi percepatan periode 2024-2026, di antaranya menemukan dan mengobati minimal 90 persen dari total estimasi kasus nasional serta menurunkan angka kejadian TBC menjadi 65 per 100 ribu penduduk pada tahun 2030.

Tujuan Program TBC Keep Going

Program TBC Keep Going memiliki sejumlah tujuan utama, yaitu:

1. Memantau kondisi kesehatan pasien dan mengidentifikasi pasien TBC yang berisiko putus obat.

2. Meningkatkan kepatuhan pasien melalui pendampingan tenaga kesehatan.

3. Mendukung tenaga medis melalui kolaborasi bersama keluarga dan komunitas dalam mendampingi pasien selama masa pengobatan.

Manfaat dan Dampak

Melalui inovasi ini, Puskesmas Tamansari berharap dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular, khususnya TBC.

Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pasien untuk rutin berobat ke puskesmas hingga menyelesaikan pengobatan secara tuntas.

Apabila permasalahan kepatuhan pengobatan tidak segera ditangani, maka sejumlah dampak serius dapat terjadi, antara lain:

1. Tingginya angka pasien TBC putus obat.

2. Banyak pasien tidak menyelesaikan pengobatan.

3. Meningkatnya risiko resistensi obat dan penyebaran penyakit di masyarakat.

Tahapan Pelaksanaan Program

Pelaksanaan TBC Keep Going dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:

1. Perencanaan

• Menyiapkan bahan konsultasi program.

• Menghubungi Kepala Puskesmas dan penanggung jawab UKP untuk penjadwalan konsultasi.

• Mengumpulkan referensi penggunaan teknologi seperti aplikasi dan pesan singkat.

• Mendesain media informasi TBC Keep Going serta mencetaknya setelah mendapat persetujuan.

2. Pelaksanaan

• Menyiapkan materi dan bahan sosialisasi.

• Mengadakan sosialisasi tata cara program kepada pasien dan keluarga.

• Mengidentifikasi pasien TBC yang berisiko putus obat.

• Menugaskan tenaga kesehatan untuk memantau dan mendampingi pasien melalui aplikasi WhatsApp.

• Membangun kolaborasi bersama keluarga dan komunitas dalam mendukung proses pengobatan pasien.

3. Evaluasi

• Melakukan evaluasi terhadap penerapan inovasi TBC Keep Going kepada pasien TBC.

• Mengolah hasil evaluasi dan menyusun rekomendasi peningkatan program.

Monitoring dan Evaluasi Berkala

Monitoring program dilakukan setiap bulan oleh penanggung jawab program bersama tim audit puskesmas untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai jadwal dan target.

Sementara itu, evaluasi dilakukan melalui pelaporan hasil pengukuran kinerja setiap bulan kepada koordinator UKM dan Kepala Puskesmas.

Hasil analisis program juga akan dilaporkan setiap tahun kepada Dinas Kesehatan sebagai bagian dari evaluasi Program Kinerja Puskesmas (PKP).

Dengan hadirnya inovasi TBC Keep Going, Puskesmas Tamansari optimistis mutu pelayanan kesehatan akan semakin meningkat dan pasien TBC dapat menjalani pengobatan secara disiplin hingga sembuh.