BOGOR.POJOKSATU.id - Adanya program Makan Bergizi Gratis atau yang biasa disebut dengan MBG ternyata menimbulkan beberapa persoalan di berbagai wilayah. Salah satunya yakni adanya kasus keracunan massal pada siswa di Cianjur.

Kasus keracunan massal yang terjadi di Cianjur ternyata menjadi kekhawatiran besar juga bagi para pemangku kebijakan MBG di Kabupaten Bogor.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Bambang Widodo Tawekal. Dirinya mengatakan jika seluruh kepala sekolah di Bogor harus terus memantau menu MBG demi menghindari masalah keracunan massal.

“Kepada seluruh kepala sekolah ketika terjadi persoalan di makan bergizi gratis tolong lapor cepat, supaya bisa dikoordinasikan,” tuturnya.

Tak mau kecolongan, Bambang mengaku hingga detik ini pihaknya masih terus melakukan koordinasi pada pihak yang berhubungan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) ataupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Seperti diketahui, di Kabupaten Bogor sudah ada 17 SPPG yang beroprasi.

“Belasan SPPG di kami alhamdulillah masih beroparasi dan hingga saat ini belum ada laporan. Kami percaya laporan mereka, karena komunikasinya intens,” tuturnya.

Meski begitu, Bambang menyatakan bahwa dirinya tetap secara rutin mengingatkan untuk berhati-hati dalam proses produksi menu MBG, mengingat para siswa penerima manfaat merupakan tanggung jawabnya.

Ia berharap, dengan adanya koordinasi yang baik antara semua pihak terkait, potensi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam penyaluran makan bergizi gratis di satuan pendidikan Kabupaten Bogor dapat diantisipasi dan dicegah.

"Penyaluran MBG tetap berjalan melalui SPPG dan satuan pendidikan, Insya Allah akan terus berjalan lancar, sehingga jika ada kendala, bisa segera dikomunikasikan," tutupnya.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini biasanya merujuk pada inisiatif pemerintah, khususnya di sektor pendidikan, untuk memberikan makanan bergizi kepada siswa-siswi di sekolah, terutama di tingkat dasar dan menengah.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan status gizi anak-anak, mendukung pertumbuhan mereka, memperbaiki konsentrasi belajar, serta mencegah stunting dan masalah kekurangan gizi lainnya.

Dalam kasus seperti di Kabupaten Bogor yang kamu sebutkan, MBG diberikan secara rutin kepada siswa penerima manfaat dan dikelola melalui satuan pendidikan, dengan pengawasan ketat agar mutu makanan tetap terjaga dan tidak menimbulkan masalah kesehatan.

Program ini biasanya melibatkan kerja sama antara sekolah, pemerintah daerah, hingga penyedia makanan. ***