BOGOR.POJOKSATU.id – Suasana duka menyelimuti warga Kecamatan Rumpin setelah dua pelajar laki-laki dari salah satu sekolah di wilayah tersebut menjadi korban kecelakaan tragis.

Kedua korban, yang telah dikenal luas di kalangan masyarakat sebagai sosok muda yang baik dan aktif, yaitu Alm. Maulana Hasan Basri dan Alm. Dian Maulana, meninggal dunia dalam insiden yang terjadi di jalur yang kerap dilalui kendaraan truk tambang.

Kejadian memilukan ini kembali membuka luka lama dan memicu kekhawatiran warga, terutama terkait masalah keselamatan jalan raya yang hingga kini belum tertangani secara menyeluruh.

Salah satu sorotan utama warga adalah terkait aktivitas truk tambang yang masih sering melanggar aturan jam operasional, serta minimnya keberadaan lampu penerangan jalan umum (PJU) yang memperparah risiko kecelakaan, terutama saat malam atau dini hari.

Menurut keterangan warga, truk-truk tambang kerap kali melintas di luar jam yang telah ditentukan oleh pemerintah daerah.

Padahal, jam operasional truk-truk besar ini seharusnya dibatasi guna menjaga keselamatan pengguna jalan lainnya, termasuk para pelajar yang setiap hari menggunakan jalan tersebut untuk pergi dan pulang sekolah.

Sayangnya, pelanggaran terus terjadi tanpa pengawasan yang ketat, hingga akhirnya memakan korban jiwa.

“Ini bukan pertama kalinya ada korban di jalan tambang. Tapi kali ini yang jadi korban adalah anak-anak sekolah, generasi muda kita. Kami sangat berduka dan kecewa. Harus berapa nyawa lagi yang hilang sebelum ada tindakan nyata dari pihak berwenang?” ujar salah satu warga setempat dengan nada geram.

Selain persoalan jam operasional, warga juga menyoroti buruknya infrastruktur, khususnya minimnya penerangan jalan umum di wilayah tersebut.

Banyak ruas jalan yang gelap saat malam, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan, apalagi jika dilalui oleh kendaraan besar seperti truk tambang yang membawa muatan berat.

Warga berharap tragedi yang menimpa Maulana dan Dian bisa menjadi momentum bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan lalu lintas, khususnya terhadap kendaraan berat di kawasan pemukiman dan jalur pelajar.

Penegakan aturan harus dijalankan secara tegas dan konsisten, termasuk pemberian sanksi bagi truk tambang yang melanggar jam operasional.

“Kami tidak ingin tragedi seperti ini terus berulang. Kami menuntut ada tindakan konkret, seperti peningkatan penerangan jalan, pengawasan jam operasional truk, hingga solusi jangka panjang terkait rute kendaraan tambang. Jangan sampai pengorbanan dua pelajar ini hanya menjadi angka dalam data kecelakaan lalu lintas,” tegas warga lainnya yang turut menyampaikan aspirasi bersama masyarakat.

Duka mendalam dan solidaritas pun terus mengalir untuk keluarga korban. Doa dan harapan agar kedua almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT disampaikan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di sisi lain, suara-suara keprihatinan warga kini semakin keras, menuntut perhatian dan tanggung jawab dari pihak-pihak yang berwenang agar keselamatan warga, khususnya anak-anak, benar-benar dilindungi.

Tragedi ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak bahwa keselamatan bukanlah hal yang bisa dikompromikan.

Sudah saatnya kebijakan dijalankan bukan sekadar tertulis di atas kertas, tetapi benar-benar ditegakkan di lapangan demi mencegah jatuhnya korban berikutnya. ***