POJOKBOGOR.id — Kawasan Puncak Bogor kembali jadi sorotan.

Drainase buruk, lahan resapan yang kian menyusut, dan bangunan liar disebut sebagai kombinasi maut yang memicu banjir di wilayah ini.

Petugas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian PUPR, Sandi, menilai kondisi saluran air di Puncak sudah mengkhawatirkan.

“Banyak drainase tertutup alias buntu. Ini kan aneh, lalu air mau ke mana kalau tidak ke jalan?” ujarnya, Rabu (13/8/2025).

Fakta di lapangan menunjukkan sebagian besar saluran digerus bangunan dan tersumbat sampah, membuat air meluap ke jalan dan merendam kampung.

Kementerian Lingkungan Hidup RI pun turun tangan.

Sejumlah bangunan tanpa izin di atas lahan KSO PTPN 1 Regional 2 dibongkar demi memulihkan fungsi resapan. Namun masalah tak berhenti di situ.

Perkampungan padat seperti Kampung Rawa Sedek (Desa Megamendung) dan Kampung Pensiunan (Desa Tugu Selatan) terus bertambah jumlah penduduknya, seiring meningkatnya pembangunan rumah di daerah rawan.

Direktur Eksekutif LSM Rumpun Hijau, Sunyoto, mengingatkan bahaya yang mengintai.

“Pemerintah jangan hanya menata di pinggir jalan. Penataan kampung juga penting untuk cegah banjir dan longsor. Korban terbanyak ada di perkampungan padat penduduk,” tegasnya.

Dengan kondisi ini, Puncak Bogor butuh solusi menyeluruh, bukan hanya tambal sulam.

Jika tidak, banjir akan menjadi tamu langganan setiap musim hujan.