BOGOR.POJOKSATU.id - Sebuah peristiwa tragis terjadi di wilayah Parung, Kabupaten Bogor. Seorang pria berinisial MY, berusia sekitar 40 tahun, ditemukan telah meninggal dunia di dalam rumahnya yang berlokasi di Desa Bojong Indah.

Korban ditemukan dalam kondisi tergantung, menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Kapolsek Parung, Kompol Maman Firmansyah, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut terjadi pada malam hari, tepatnya Selasa, 20 Mei 2025.

Awalnya, kakak kandung korban merasa khawatir karena sudah beberapa waktu tidak bisa menghubungi MY. Kecurigaan muncul ketika rumah korban tampak terkunci rapat dari luar dan tidak ada respons dari dalam. Sang kakak kemudian mencoba mengintip rumah dari bagian atas loteng.

“Saat itu saksi pertama tidak melihat aktivitas apa pun di ruang tengah rumah, lalu ia meminta bantuan tetangga serta anaknya untuk bersama-sama memastikan kondisi di dalam rumah,” ujar Kompol Maman saat memberikan keterangan pers, Rabu (21/5/2025).

Saksi tambahan kemudian mengintip ke arah dapur dan melihat MY dalam posisi duduk diam. Karena posisinya terlihat seperti orang sedang duduk biasa, saksi tidak menyadari bahwa MY sebenarnya telah meninggal dunia.

Ia pun segera keluar dan mengabarkan ke tetangga lain bahwa MY terlihat sedang duduk diam di dapur rumahnya.

Namun karena situasinya terasa janggal, warga setempat memutuskan untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama. Saat mereka berhasil masuk dan mengecek lebih dekat, barulah mereka menyadari bahwa MY telah meninggal dunia.

Jasad korban ditemukan dalam keadaan menggantung, menandakan dugaan kuat bahwa korban melakukan bunuh diri.

“Setelah memastikan kondisi korban, warga langsung melapor ke pengurus lingkungan RT dan RW, kemudian informasi tersebut diteruskan ke aparat keamanan, termasuk Bhabinkamtibmas dan Babinsa,” tambah Kapolsek.

Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui bahwa MY memiliki riwayat gangguan kejiwaan yang telah berlangsung cukup lama, sejak tahun 2001.

Bahkan, diketahui bahwa korban baru saja keluar dari rumah sakit jiwa sekitar satu minggu sebelum kejadian. Hal ini diperkuat dengan adanya dokumen dan rekam medis yang dimiliki keluarga.

“Tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau luka mencurigakan pada tubuh korban. Berdasarkan hal tersebut, keluarga korban menolak dilakukan autopsi dan memilih untuk segera memakamkan korban secara layak,” tutur Kompol Maman.

Kematian MY meninggalkan duka yang mendalam, sekaligus menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental.

Pihak keluarga kini tengah bersiap untuk proses pemakaman dan berharap agar almarhum dapat beristirahat dengan tenang. ***