POJOKBOGOR.id - Kang Dedi Mulyadi (KDM) menggelar safari cinta yang berlangsung di Kampung Tapos, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor pada, Senin (2/10) malam.
Dari safari cinta tersebut, kang Dedi Mulyadi yang juga politisi Partai Gerindra agar masyarakat mengingat leluhur.
Menurutnya Bogor yang dikenal sebagai Pakuan Pajaran ke depan harus dibenahi. Sebab dari dulu Bogor dikenal sebagai daerah subur.
Baca Juga: Manajemen Uika minta Mahasiswi Melapor jika jadi Korban Pelecehan Seksual
Kesuburan tersebut, kata KDM, harus dijaga jangan sampai terus-terusan digempur oleh Pembangunan perumahan yang masif.
“Sayang tanah yang subur ini diisi oleh beton,” ucapnya.
Maka ke depan Bogor harus mengembalikan tata ruang sebagai tempat pengembangan pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan sehingga menjadi etalase atau landscape yang indah di Indonesia.
Baca Juga: Bupati Bogor Pimpin Pemusnahan Miras di Hari Kesaktian Pancasila
“Landscape indah itu ada di Hambalang, di rumah bapak (Prabowo). Artinya nanti Pemkab mengembangkan bangunan pemerintah tiru prototipe rumah bapak, pemprov juga sama, dan itu harus berlangsung untuk semua. Sehingga kampung-kampung yang indah itu bukan hanya kampung Hambalang tempat bapak, tapi desa di Indonesia harus seperti itu,” katanya.
Tak hanya itu KDM pun menyampaikan pesan leluhur dan pesan adat agar menjaga mata air dan kandungan kekayaan alam di perut bumi. Jika di atas tanah masih bisa ditanami berbagai hal produktif maka tidak perlu ada penambangan.
“Kita sudah dikasih oleh tuhan kesuburan permukaan, kalau itu saja bisa membuat kebahagiaan dan kemakmuran ngapain digali dalamnya,” ujar KDM.
Baca Juga: Siapkan Generasi Pemimpin, ICMI Orwilsus Bogor Adakan National Leadership Camp
Terakhir KDM pun mengajak masyarakat Bogor untuk menyelami filosofi Siliwangi. Sebab selama ini banyak anak yang tak mengenal leluhurnya dan justru bangga terhadap leluhur orang lain.
“Kita jangan membanggakan leluhur orang lain, kita harus membanggakan leluhur kita. Kita ini banyak memuja leluhur orang lain tapi lupa pada leluhur kita. Pada akhirnya kita menjadi budak di negeri kita sendiri,” pungkas Kang Dedi Mulyadi. ***



