POJOKBOGOR.id – Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya mengantarkan mahasiswa mendapatkan gelar.
Tantangan berikutnya justru muncul setelah wisuda: ke mana ilmu para sarjana itu akan dibawa dan siapa yang akhirnya merasakan dampaknya?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu arah yang ingin dijawab Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara atau ITB Vinus Bogor.
Dalam peletakan batu pertama pembangunan gedung rektorat ITB Vinus di Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis, 24 September 2026, kampus tersebut membawa gagasan agar mahasiswa tidak hanya lulus dan meninggalkan daerah asal, tetapi mampu kembali serta ikut menggerakkan pembangunan masyarakat.
Ketua Yayasan Nusantara Maju, Yusfitriadi, mengatakan konsep pendidikan ITB Vinus diarahkan pada pembentukan mahasiswa yang berdaya dan mandiri.
“Kami tidak menciptakan kampus yang kaku, tetapi kampus yang berdaya dan mandiri. Mahasiswa bisa menjadi apa saja, baik pengusaha, entrepreneur, politisi maupun profesi lainnya,” kata Yusfitriadi, Kamis, 24 September 2026.
Konsep itu salah satunya diterjemahkan melalui gagasan Satu Sarjana Satu Desa, yakni membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat desa sekaligus mendorong mereka memberikan kontribusi setelah menyelesaikan pendidikan.
Dari Kampus, Kembali ke Desa
Gagasan tersebut menjadi relevan karena Kabupaten Bogor memiliki wilayah yang sangat luas dengan ratusan desa yang mempunyai kebutuhan pembangunan berbeda.
Program Satu Sarjana Satu Desa saat ini bahkan sudah mulai berjalan.
Data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bogor yang diberitakan pada 7 September 2026 mencatat sebanyak 250 dari total 416 desa telah mengunggah surat keputusan calon mahasiswa melalui sistem yang disediakan pemerintah daerah per 2 September 2026.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus meningkatkan akses masyarakat desa terhadap pendidikan tinggi.
Baca Juga: Bakal Jadi Saingan IPB, Berikut Lokasi Universitas Republik Indonesia di Bogor
ITB Vinus menjadi salah satu perguruan tinggi yang terhubung dengan arah tersebut.
Dalam sistem penerimaan mahasiswa barunya, kampus menyediakan jalur khusus Beasiswa Satu Sarjana Satu Desa atau Sasarsadesa, baik bagi aparatur desa maupun masyarakat umum.
Dengan pola tersebut, perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat mahasiswa mendapatkan gelar, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai pembangunan desa.
Sarjana yang berasal dari desa diharapkan membawa kembali kompetensi di bidang teknologi, bisnis, kewirausahaan maupun bidang lain untuk diterapkan di lingkungan asalnya.
Baca Juga: Sama dengan Universitas Indonesia, BEM IPB Juga Tolak Pembangunan Dapur MBG Dilingkungan Kampus
1.432 Mahasiswa, Bersiap Wisuda Perdana
Pengembangan ITB Vinus Bogor juga memasuki tahap baru.
Rektor ITB Vinus Bogor Daniel Suron menyebut jumlah mahasiswa kampus tersebut saat ini telah mencapai 1.432 orang.
ITB Vinus juga dijadwalkan menggelar wisuda perdana untuk angkatan pertamanya pada 2026. Kampus selanjutnya mempersiapkan penambahan program studi serta rencana perubahan status menjadi universitas.
Secara akademik, ITB Vinus saat ini membuka program studi Sistem Informasi, Bisnis Digital dan Kewirausahaan. Situs resmi kampus menempatkan teknologi digital dan entrepreneurship sebagai bagian utama arah pendidikannya.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menilai dua bidang tersebut menjadi kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Kampus ini mengetengahkan dua kompetensi masa depan: digital dan bisnis,” ujar Herman Suryatman, Kamis, 24 September 2026.
Bukan Hanya Mencari Kerja
Arah pendidikan yang dibangun juga tidak berhenti pada bagaimana mahasiswa mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Anggota DPR RI Mulyadi yang hadir dalam peletakan batu pertama gedung rektorat tersebut mendorong mahasiswa membangun karakter dan kompetensi tambahan agar mampu menciptakan peluang ekonomi.
“Jangan sampai kalian menjadi lulusan yang mencari kerja. Kalian harus menjadi lulusan yang memberi lapangan kerja,” ujar Mulyadi, Kamis, 24 September 2026.
Pesan tersebut menjadi salah satu tantangan penting bagi pendidikan tinggi.
Baca Juga: 10 Universitas Terbaik di China yang Menjadi Incaran Mahasiswa Internasional
Kampus tidak hanya dituntut menaikkan jumlah lulusan, tetapi juga memastikan kompetensi mereka relevan ketika kembali ke tengah masyarakat.
Arah itu juga sejalan dengan kebijakan Kampus Berdampak yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Kemdiktisaintek menempatkan perguruan tinggi bukan semata sebagai penghasil lulusan, tetapi sebagai agen transformasi sosial dan motor inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kampus Didekatkan ke Masyarakat
Pembangunan gedung rektorat ITB Vinus dilakukan di kawasan Karadenan, Kecamatan Cibinong.
Pengembangan kawasan kampus dilakukan di atas lahan sekitar dua hektare dengan pembangunan tahap awal sekitar 5.000 meter persegi. Fasilitas yang direncanakan meliputi gedung rektorat, ruang kelas, masjid, ballroom, kantin dan area taman. Target pembangunan tahap tersebut diarahkan selesai sekitar 2027.
ITB Vinus juga mengembangkan akses pendidikan melalui beberapa lokasi kampus di Kabupaten Bogor.
Baca Juga: Masjid Ramah Mahasiswa untuk Tarawih di Sekitar IPB Dramaga dan Universitas Pakuan
Selain Cibinong, laman penerimaan mahasiswa ITB Vinus mencantumkan kampus di Cibungbulang, Cileungsi dan Cijeruk.
Konsep tersebut diarahkan agar akses perguruan tinggi tidak terkonsentrasi hanya di satu kawasan.
Pembangunan gedung rektorat kemudian bukan hanya persoalan bertambahnya fasilitas fisik.
Di belakangnya terdapat tantangan yang lebih besar: bagaimana 1.432 mahasiswa yang hari ini belajar di ITB Vinus tidak sekadar menjadi angka kelulusan, tetapi menjadi sumber daya manusia yang mampu membawa ilmu, inovasi dan peluang ekonomi kembali ke masyarakat.
Baca Juga: Rekomendasi Masjid untuk Shalat Tarawih di Sekitar Kampus IPB Dramaga dan Universitas Pakuan
Terlebih, Kabupaten Bogor tengah menjalankan Program Satu Sarjana Satu Desa sebagai salah satu instrumen pembangunan SDM.
Jika proses pendidikan, pembiayaan dan kontribusi setelah lulus dapat tersambung, perjalanan seorang mahasiswa tidak berakhir ketika menerima ijazah.
Justru dari situlah perannya untuk daerah asal mulai diuji.



