BOGOR.POJOKSATU.id - Masalah sampah yang selama ini membayangi kota-kota besar di Indonesia mulai diarahkan ke solusi konkret. Pemerintah resmi mempercepat proyek Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang digelar di Jakarta.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa saat ini bukan lagi waktunya sekadar wacana. Ia menekankan pentingnya eksekusi nyata di lapangan untuk mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak.

“Era perencanaan sudah selesai. Sekarang saatnya kita bergerak dan mengeksekusi di lapangan,” ujarnya.

Proyek ini dirancang dengan kapasitas pengolahan minimal 1.000 ton sampah per hari. Selain menekan volume sampah, program ini juga diharapkan mampu menghasilkan energi listrik yang berkontribusi pada ketahanan energi nasional.

Dalam implementasinya, pemerintah menerapkan pendekatan kolaboratif antarwilayah. Di Bogor misalnya, pemerintah kota dan kabupaten bekerja sama untuk memastikan suplai sampah sebagai bahan baku tetap terjaga.

Pola serupa juga diterapkan di Bali, dengan sinergi antara Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.

Tak berhenti di beberapa daerah tersebut, percepatan proyek ini juga didorong oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.

Ia bahkan menargetkan dalam tujuh minggu ke depan akan ada 12 kawasan aglomerasi tambahan yang ikut menjalankan skema serupa.

“Kita dorong percepatan. Dalam beberapa minggu ke depan, harus ada belasan wilayah lain yang mulai bergerak,” tegasnya.

Secara keseluruhan, pemerintah telah menyiapkan peta pengembangan PSEL di 31 wilayah aglomerasi yang mencakup 86 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Danantara, proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengubah sampah yang selama ini menumpuk di tempat pembuangan akhir menjadi sumber energi yang bermanfaat.

Langkah ini sekaligus menjadi titik balik dalam pengelolaan sampah nasional—dari sekadar persoalan lingkungan, menjadi peluang energi yang dapat menerangi kehidupan masyarakat. ***