BOGOR.POJOKSATU.id – Keluhan masyarakat terhadap banjir yang kerap terjadi di ruas Jalan Nasional Parung-Bogor, tepatnya di kawasan sekitar pohon jubleg, sempat mendapat penanganan dari Pemerintah Kabupaten Bogor.
Namun sayangnya, kondisi genangan air kini kembali terjadi, bahkan disertai dengan aroma tidak sedap yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan dan warga sekitar.
Sebelumnya, setelah keluhan warga semakin banyak disuarakan di media sosial maupun langsung ke pemerintah daerah, Bupati Bogor Rudy Susmanto langsung memberikan instruksi kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bogor untuk turun tangan.
Tim PUPR pun melakukan pembersihan gorong-gorong dari sampah dan sedimentasi yang menghambat aliran air.
Tak hanya itu, petugas pemadam kebakaran (Damkar) juga dikerahkan untuk menyedot genangan air agar area jalan kembali kering dan aman dilalui kendaraan.
Langkah cepat tersebut sempat mendapat apresiasi dari warga karena berhasil mengurangi genangan yang selama ini menjadi biang kemacetan dan rawan kecelakaan, terutama saat musim hujan. Namun, kondisi tersebut tak berlangsung lama.
Dalam beberapa hari terakhir, banjir kembali menggenangi area yang sama, kali ini disertai dengan bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan para pedagang sekitar.
Kondisi ini pun kembali menuai komentar dari warga, terutama di media sosial. Salah seorang netizen menyebut bahwa penanganan sementara tidak akan menyelesaikan akar masalah.
Ia menilai bahwa persoalan banjir di kawasan itu adalah permasalahan struktural berlapis, mulai dari penyempitan fungsi ruang terbuka hijau yang diubah menjadi bangunan toko, hingga drainase bawah tanah dan saluran tertutup yang sudah tidak lagi memadai untuk menampung debit air saat hujan deras.
“Area yang seharusnya jadi resapan air kini malah dibangun toko. Drainase bawah jalan juga sepertinya sudah lama tidak direvitalisasi. Pemerintah daerah harus berani ambil langkah besar, bukan cuma menyedot air sesekali,” tulis netizen tersebut dalam unggahan yang banyak disukai dan dibagikan ulang.
Ia juga menyoroti dampak lanjutan jika tidak segera ditangani, yakni kerusakan struktur beton jalan nasional, rusaknya area hijau di sekitar pohon jubleg Parung, meningkatnya bau tidak sedap.
Hingga turunnya tingkat kebersihan dan higienitas kawasan pasar di sekitar titik banjir tersebut.
Warga kini mendesak pemerintah untuk tidak hanya melakukan aksi bersifat reaktif, melainkan menyusun kebijakan jangka panjang yang melibatkan perbaikan total sistem drainase, penataan ulang ruang terbuka hijau.
Hingga penegakan aturan tata ruang agar alih fungsi lahan tidak terus mengganggu keseimbangan lingkungan.
Sebagai jalan nasional yang menjadi penghubung vital antara Parung dan Bogor, kawasan ini seharusnya mendapat perhatian ekstra.
Banjir yang terus berulang tak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berpotensi mempercepat kerusakan infrastruktur jalan, meningkatkan risiko kecelakaan, serta menurunkan kualitas lingkungan secara umum.
Kini masyarakat menanti langkah lanjutan dari Pemkab Bogor, apakah akan ada penanganan yang lebih strategis dan menyeluruh, atau kembali pada pola lama yang hanya reaktif terhadap keluhan.
Sebab bagi warga dan pengguna jalan, kenyamanan, kebersihan, dan keselamatan adalah hak yang semestinya dilindungi dengan kebijakan yang berpihak pada kepentingan bersama. ***



