BOGOR.POJOKSATU.id - Kebiasaan merokok masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk di wilayah Kabupaten Bogor. Secara nasional, Indonesia berada di posisi ketiga sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, setelah Cina dan India.
Data menunjukkan bahwa sekitar 34,5 persen masyarakat, atau setara 70,2 juta jiwa, masih aktif merokok.
Bahkan kebiasaan ini turut menjangkiti kelompok usia sekolah, dengan prevalensi mencapai 7,3 persen, atau diperkirakan berada pada rentang 10 hingga 18 persen.
Dokter Spesialis Paru RSUD Bakti Pajajaran, Dr. Masdi, menjelaskan bahwa merokok tidak hanya memicu berbagai penyakit berat seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kanker paru, stroke, hingga gangguan jantung, tetapi juga menurunkan kualitas hidup serta meningkatkan beban ekonomi bagi keluarga maupun sistem pelayanan kesehatan.
"RSUD Bakti Pajajaran Cibinong sebagai rumah sakit rujukan regional perlu hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar imbauan. Tapi disinilah kami lahir klinik berhenti merokok. Kami sebut AkuQuit atau saya berhenti sebuah layanan terpadu bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok dengan pendampingan profesional," ungkap Dr. Masdi.
Klinik AkuQuit merupakan inovasi layanan RSUD Bakti Pajajaran Cibinong yang dirancang untuk membantu masyarakat berhenti merokok secara ilmiah, aman, dan terukur. Konsepnya menekankan bahwa berhenti merokok bukan hanya soal kemauan, tetapi juga strategi dan dukungan tenaga medis.
Di klinik ini, pasien mendapatkan berbagai layanan lengkap, mulai dari, Konsultasi dokter paru untuk menilai tingkat ketergantungan nikotin dan kondisi paru, Pemeriksaan kadar CO dalam napas. Uji fungsi paru seperti spirometri dan peak flow meter. Terapi farmakologis, termasuk terapi pengganti nikotin (NRT).
Selain itu, juga terdapat Rujukan pemilihan obat tertentu, seperti vareniklin yang pernah dirujuk hingga Malaysia, Terapi non-farmakologis, seperti hipnoterapi oleh psikiater dan akupuntur oleh dokter spesialis akupuntur hingga Edukasi dan konseling oleh dokter serta psikolog untuk mengatasi craving dan ketergantungan.
Tujuan utama program Aku Quit adalah membantu perokok berhenti secara permanen dan menurunkan angka penyakit akibat rokok. Klinik ini juga mendukung terciptanya lingkungan smoke-free di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, hingga tingkat nasional.
Manfaat bagi pasien mencakup meningkatnya kualitas hidup, berkurangnya batuk, membaiknya stamina, serta menurunnya risiko penyakit.
"Bagi keluarga, bebas dari papasan rokok yang punya resiko sebagai perokok pasif dan akan meningkatkan resiko penyakit yang sama," kata Masdi.
Selain itu, kata dia, juga terdapat manfaat bagi rumah sakit, layanan ini memperkuat komitmen RSUD Bakti Pajajaran sebagai institusi promotif dan preventif.
Menurutnya, berhenti merokok memberikan dampak positif yang sangat cepat.
"Bahkan berhenti hari ini saja, dalam 24 jam tubuh mulai memperbaiki kondisi sendiri. Dalam 14 jam, kadar CO sudah langsung kembali normal," jelasnya.
Klinik AkuQuit dibuka setiap hari, dengan pelayanan khusus pada Selasa dan Rabu, terbuka untuk umum tanpa stigma dan mengedepankan pendampingan empatik.
Saat ini klinik Aku Quit belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Namun RSUD Bakti Pajajaran menyediakan paket terapi lengkap seharga Rp2–3 juta untuk program tiga bulan, meliputi: layanan dokter paru, hipnoterapi, akupuntur, konseling psikolog, obat-obatan, pemeriksaan kadar CO serta seluruh rangkaian pemantauan selama program.
RSUD Bakti Pajajaran menargetkan AkuQuit menjadi model klinik berhenti merokok yang dapat direplikasi ke rumah sakit daerah maupun puskesmas, melalui kolaborasi lintas profesi mulai dari dokter, perawat, psikolog, farmasi, hingga dinas kesehatan.
"Kami percaya setiap napas adalah anugerah. Mari kita jaga agar tetap lega tanpa asap rokok," pungkasnya. ***



