POJOKBOGOR.id – Pembangunan PSEL Bogor Raya 1 di kawasan Galuga membawa skema baru dalam penanganan sampah.

Bukan hanya sampah yang baru masuk setiap hari, timbunan lama yang telah berada di kawasan tersebut selama puluhan tahun juga akan ikut diproses.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan sampah lama di TPAS Galuga akan ditangani menggunakan teknologi pirolisis, sedangkan sampah baru diarahkan untuk diolah menjadi energi listrik melalui PSEL.

Baca Juga: Zulhas Tegaskan Open Dumping Tak Boleh Lagi, PSEL Bogor Raya 1 Ditargetkan Rampung 2027

Pembagian tersebut disampaikan Rudy saat wawancara di Galuga pada Kamis (17/9/2026).

“Sampah baru diproses untuk pengolahan sampah energi listrik. Sampah lama diproses untuk pirolisis untuk dijadikan bahan bakar minyak,” kata Rudy Susmanto,Baca Juga: PSEL Bogor Raya 1 Ditargetkan Rampung 2 Tahun, Menteri LH Soroti Sampah Bogor yang Terus Bertambah Kamis (17/9/2026).

Menurut Rudy, sistem ini menjadi bagian dari perubahan pola pengelolaan sampah di Galuga. Kawasan yang selama ini identik dengan tumpukan sampah secara bertahap akan diarahkan menjadi lokasi pengolahan.

Baca Juga: Rudy Susmanto Ungkap Produksi Sampah Bogor Masih Surplus, PSEL Belum Mampu Tampung Semua

“Sampah tidak ditumpuk, tapi sampah diproses,” ujarnya.

TPA Galuga diketahui telah beroperasi sejak 1992. Dengan demikian, kawasan tersebut telah menjadi tempat penampungan sampah selama kurang lebih 34 tahun.

Rudy sebelumnya menyampaikan target penanganan gunungan sampah di lahan sekitar 40 hektare tersebut dalam waktu sekitar tujuh hingga 10 tahun.

Baca Juga: PSEL Bogor Raya 1 Ditargetkan Rampung 2 Tahun, Menteri LH Soroti Sampah Bogor yang Terus Bertambah

Untuk mendukung proses tersebut, fasilitas pirolisis disiapkan untuk mengolah timbunan sampah lama yang berada di Galuga.

Konsepnya berbeda dengan PSEL. Sampah baru yang masuk setiap hari menjadi bahan baku pengolahan energi listrik, sedangkan timbunan lama diproses melalui teknologi pirolisis.

Dengan pola tersebut, pemerintah tidak hanya berupaya mengendalikan sampah yang masuk ke Galuga, tetapi juga secara bertahap mengurangi timbunan yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Baca Juga: PSEL Bogor Raya akan Ubah 1.500 Ton Sampah jadi 40 Megawatt Listrik Setiap Hari

Rudy menilai proses pemulihan Galuga tidak dapat dilakukan secara instan. Karena itu, pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi salah satu tahap awal untuk mengubah sistem pengelolaan di kawasan tersebut.

“TPA Galuga berdiri tahun 1992, 34 tahun berdiri, delapan pemimpin negeri ini, baru sekarang akhirnya bangsa ini memiliki pengelolaan sampah secara modern,” kata Rudy.

Selain PSEL, pembangunan fasilitas pirolisis sebelumnya disebut memiliki nilai investasi sekitar Rp600 miliar.

Baca Juga: DPRD Kota Bogor Bongkar Hitungan BPJS : Anggaran Rp76 Miliar, Kebutuhan Rp97 Miliar, 210 Ribu Warga Sudah Ditanggung Pemkot

Dengan adanya dua fasilitas tersebut, pengelolaan Galuga ke depan diarahkan untuk menangani sampah baru sekaligus membersihkan timbunan lama secara bertahap.