POJOKBOGOR.ID - Tren bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kembali ramai dibicarakan.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan fleksibilitas kerja modern, banyak perusahaan mulai mempertimbangkan kembali sistem kerja jarak jauh secara permanen.
Tapi, eh sebentar… ternyata tidak semua pihak sepakat jika WFH dilakukan terus-menerus.
Sejumlah pengamat ketenagakerjaan hingga psikolog sosial mulai mengingatkan bahwa pola kerja yang terlalu lama dilakukan dari rumah berpotensi memunculkan situasi yang “mirip” dengan masa pandemi Covid-19.
Baca Juga: Mulai April 2026! Jatah BBM Subsidi Dibatasi Harian, Mobil Cuma 20 Liter, Ini Rinciannya
Bukan soal virusnya, tentu saja, melainkan dampak sosial dan psikologis yang perlahan muncul tanpa disadari.
Saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, WFH menjadi solusi darurat.
Aktivitas kantor berpindah ke ruang tamu, meja makan berubah jadi workstation, dan rapat virtual menjadi rutinitas harian.
Awalnya terasa menyenangkan. Tidak macet, lebih santai, bahkan bisa kerja sambil ngopi. Wah, ideal banget, kan?
Namun seiring waktu, berbagai masalah mulai muncul.
Salah satu yang paling sering disorot adalah isolasi sosial.
Ketika interaksi langsung berkurang drastis, banyak pekerja merasa kehilangan koneksi emosional dengan rekan kerja.
Hal kecil seperti ngobrol santai di kantor atau makan siang bareng ternyata punya peran besar menjaga kesehatan mental.
Psikolog menyebut kondisi ini mirip dengan fase pandemi, ketika banyak orang merasa kesepian meski tetap produktif secara pekerjaan.
Jadi, meskipun target kerja tercapai, kesejahteraan emosional belum tentu ikut terjaga.
Selain itu, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi semakin kabur.
Nah, ini yang sering bikin orang tidak sadar kalau sebenarnya mereka bekerja lebih lama dibanding saat di kantor.
Baca Juga: Waduh! Tarif Bus Naik Mendadak karena BBM Langka, Penumpang Auto Mengeluh
Laptop selalu dekat, notifikasi terus masuk, dan jam kerja terasa tidak pernah benar-benar selesai.
“Burnout diam-diam” menjadi istilah yang sering muncul. Banyak pekerja merasa lelah, tetapi sulit menjelaskan penyebabnya.
Kemiripan lain dengan masa Covid adalah menurunnya aktivitas fisik.
Tanpa perjalanan ke kantor, mobilitas harian berkurang drastis.
Baca Juga: Gagal Masuk PTN? Tenang! Ini Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Tahun 2026 yang Jadi Incaran Baru
Duduk terlalu lama di rumah berdampak pada kesehatan tubuh, mulai dari gangguan postur hingga peningkatan stres.
Di sisi perusahaan, tantangan juga tidak kalah besar.
Tidak semua pekerjaan efektif dilakukan secara remote. Kolaborasi kreatif, pengambilan keputusan cepat, hingga pembentukan budaya kerja sering kali lebih optimal saat dilakukan secara langsung.
Makanya, sejumlah perusahaan global kini mulai menerapkan sistem hybrid, kombinasi antara kerja dari rumah dan kerja di kantor.
Model ini dianggap sebagai jalan tengah agar fleksibilitas tetap ada tanpa mengorbankan interaksi sosial.
Oh iya, ada satu lagi yang menjadi perhatian generasi pekerja baru.
Karyawan muda yang sepenuhnya bekerja secara WFH berisiko kehilangan proses pembelajaran informal yang biasanya terjadi di kantor, seperti mentoring spontan atau diskusi langsung dengan senior.
Para ahli menilai pengalaman tersebut sulit tergantikan oleh pertemuan virtual.
Meski demikian, bukan berarti WFH harus dihapus sepenuhnya.
Baca Juga: Jadwal SMUP Unpad 2026 Resmi Dibuka! Catat Tanggal Pentingnya, Jangan Sampai Telat Daftar
Banyak manfaat nyata yang sudah dirasakan, mulai dari efisiensi waktu hingga penghematan biaya transportasi.
Hanya saja, keseimbangan menjadi kunci utama.
WFH boleh saja, tapi tidak terus-menerus tanpa strategi.
Jika tidak diatur dengan baik, dampak sosial dan mental yang pernah muncul saat pandemi bisa kembali terasa meski dalam bentuk berbeda.
Baca Juga: Resmi! Rute Bus Listrik Kabupaten Bogor Koridor 2 Dirilis, Bojong Gede–Sentul Jadi Jalur Perdana
Jadi, pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah WFH baik atau buruk. Melainkan, bagaimana cara menjalankannya secara sehat dan berkelanjutan.
Dan ya, mungkin inilah pelajaran terbesar dari era Covid teknologi bisa menggantikan tempat kerja, tapi belum tentu bisa sepenuhnya menggantikan interaksi manusia.***




