POJOKBOGOR.ID - Bali memang identik dengan keindahan alam dan budaya yang memikat wisatawan dunia.
Namun di balik gemerlap pariwisata, ada tradisi yang tetap hidup dan dijaga dengan penuh ketulusan oleh masyarakat lokal, khususnya perempuan Bali.
Tradisi itu dikenal dengan sebutan nganyah.
Bagi masyarakat Bali, nganyah bukan sekadar aktivitas membantu persiapan upacara adat.
Baca Juga: Hanya Dipangkas 1 Hari, Pemerintah Bisa Hemat Rp40 Triliun per Tahun Dari Program MBG
Lebih dari itu, tradisi ini menjadi simbol pengabdian, kebersamaan, sekaligus bentuk spiritualitas yang mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau dilihat sekilas, aktivitas nganyah mungkin tampak seperti kegiatan biasa memasak bersama, membuat sesajen, menyiapkan perlengkapan upacara, hingga membersihkan area pura.
Tapi eh, jangan salah.
Di balik kesibukan tersebut tersimpan nilai filosofi yang dalam.
Baca Juga: Detik-detik Pemotor Tegur Oknum Polisi yang Asik Merokok Saat Berkendara
Nganyah dilakukan secara sukarela tanpa imbalan materi.
Perempuan Bali biasanya berkumpul sejak pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.
Mereka bekerja bersama dengan suasana hangat, penuh canda, dan tentu saja rasa gotong royong yang terasa begitu kental.
“Ini sudah seperti bagian dari hidup,” begitu ungkapan yang sering terdengar dari para perempuan Bali saat ditanya tentang tradisi ini.
Tradisi nganyah biasanya dilakukan menjelang upacara keagamaan Hindu Bali, seperti odalan (hari jadi pura), Galungan, Kuningan, maupun berbagai ritual adat lainnya.
Peran perempuan menjadi sangat penting karena mereka bertanggung jawab menyiapkan banten atau sesajen yang memiliki makna spiritual mendalam.
Proses membuat banten sendiri tidak bisa sembarangan.
Ada aturan, simbol, dan tata cara tertentu yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Dana Transfer Daerah Dipangkas, Sejumlah Sektor Langsung Gonjang-Ganjing! Ini Dampak Nyatanya
Nah, di sinilah nilai edukasi budaya berlangsung secara alami.
Generasi muda belajar langsung dari orang tua dan tetua adat tanpa perlu ruang kelas formal.
Menariknya lagi, tradisi ini juga menjadi ruang sosial bagi perempuan Bali.
Nganyah bukan hanya tentang bekerja, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.
Baca Juga: Imbas Harga BBM, Perusahaan Grab, Gojek Hingga Bluebird Bakal Alami Kenaikan Tarif
Obrolan ringan, tawa kecil, hingga berbagi cerita kehidupan menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Ya, semacam “healing versi tradisional”, tapi sarat makna spiritual.
Di tengah modernisasi dan kesibukan era digital, tradisi nganyah tetap bertahan.
Banyak perempuan Bali yang kini bekerja di sektor formal tetap meluangkan waktu untuk ikut nganyah ketika ada upacara adat.
Hal ini menunjukkan bahwa identitas budaya tetap menjadi prioritas, meski gaya hidup terus berubah.
Para pengamat budaya menilai nganyah sebagai bentuk nyata konsep Tri Hita Karana, filosofi hidup masyarakat Bali yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Melalui nganyah, ketiga unsur tersebut berjalan bersamaan.
Ada nilai religius, sosial, dan harmoni lingkungan yang menyatu dalam satu aktivitas sederhana.
Namun demikian, tantangan tetap ada.
Baca Juga: Akhirnya Dibuka! Segmen Sadang–Setu Japek II Selatan Jadi Penyelamat Arus Balik Lebaran
Generasi muda yang semakin sibuk dan mobilitas tinggi membuat sebagian pihak khawatir tradisi ini perlahan berkurang partisipasinya.
Karena itu, banyak komunitas adat kini aktif mengajak anak muda untuk tetap terlibat agar nilai budaya tidak terputus.
Untungnya, kesadaran menjaga tradisi masih cukup kuat di Bali.
Bahkan, beberapa wisatawan yang berkunjung sering merasa kagum melihat kebersamaan perempuan Bali saat nganyah berlangsung.
Bukan soal besar atau kecilnya pekerjaan, tapi tentang ketulusan yang dilakukan bersama-sama.
Dan mungkin di situlah letak keistimewaannya.
Nganyah mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari rasa kebersamaan dan pengabdian yang dilakukan dengan hati.
Ah, sederhana, tapi justru itulah yang membuat tradisi ini tetap hidup hingga sekarang.***




