BOGOR.POJOKSATU.id - Perbincangan mengenai potensi kondisi darurat selama tujuh hari ramai diperbincangkan di ruang publik setelah pernyataan Dharma Pongrekun viral di media sosial.
Mantan perwira tinggi Polri itu menyinggung kemungkinan terjadinya skenario terburuk, seperti padamnya listrik dan internet secara menyeluruh, yang berpotensi melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Dalam pernyataannya, ia mengingatkan pentingnya kesiapan warga menghadapi situasi ekstrem dengan menyiapkan kebutuhan dasar agar tidak sepenuhnya bergantung pada sistem modern.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pemerintah yang menyatakan adanya status darurat nasional atau regional.
Namun para pengamat menilai, isu tersebut tetap patut disikapi secara rasional. Gangguan pada sistem vital seperti listrik dan jaringan komunikasi dapat menimbulkan dampak berantai.
Mulai dari terputusnya akses informasi, terganggunya distribusi air bersih, hingga lumpuhnya transaksi non-tunai yang kini menjadi andalan masyarakat perkotaan.
Menariknya, konsep kesiapsiagaan semacam ini bukan hal baru di tingkat global. Sejumlah negara Eropa seperti Belanda dan Jerman telah lebih dulu membagikan panduan kesiapsiagaan darurat kepada warganya.
Panduan tersebut umumnya berfokus pada kemampuan bertahan mandiri selama 72 jam pertama jika terjadi krisis nasional, seperti gangguan energi, bencana alam, atau ancaman keamanan.
Sementara itu di Indonesia, panduan resmi kesiapsiagaan darurat untuk masyarakat sipil belum tersosialisasi secara luas.
Kondisi ini membuat sebagian warga mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar, terutama di media sosial.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap kritis, tidak mudah panik, dan menyikapi isu darurat secara proporsional.
Langkah sederhana seperti menyimpan cadangan air minum, makanan non-perishable, penerangan darurat, serta uang tunai secukupnya dinilai cukup sebagai bentuk antisipasi awal.
Para ahli menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan berarti ketakutan, melainkan upaya membangun ketahanan individu dan keluarga agar tetap tenang dan siap menghadapi situasi tak terduga tanpa menimbulkan kepanikan massal. ***



