POJOKBOGOR.ID - Program Sekolah Rakyat rintisan perlahan tapi pasti mulai menunjukkan geliatnya di berbagai daerah Indonesia.
Awalnya publik hanya ramai membicarakan keberadaannya di Jakarta dan Bogor.
Namun, eh ternyata, konsep pendidikan alternatif berbasis akses inklusif ini kini mulai merambah sejumlah wilayah lain.
Program Sekolah Rakyat digagas sebagai solusi pendidikan bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses sekolah formal, baik karena faktor ekonomi, geografis, maupun sosial.
Baca Juga: Kabar Penting! BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Kematian dan Beasiswa untuk PPPK Paruh Waktu
Pemerintah bersama berbagai lembaga pendidikan mencoba menghadirkan model belajar yang lebih fleksibel, adaptif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Nah, yang menarik, persebarannya kini tidak lagi terpusat di wilayah Jabodetabek saja.
Berdasarkan perkembangan terbaru program rintisan, Sekolah Rakyat mulai muncul di beberapa kota dan kabupaten di luar Jakarta dan Bogor.
Beberapa daerah yang sudah menjalankan tahap awal implementasi antara lain wilayah Jawa Barat lainnya seperti Bandung Raya dan Cirebon, kemudian merambah Jawa Tengah seperti Semarang dan Solo.
Baca Juga: Bagaimana Nasib Rapel Pensiunan PNS? Setelah APBN 2026 Disahkan, Ini Penjelasannya
Tidak hanya di Pulau Jawa, lho. Program serupa juga mulai diuji coba di beberapa daerah Sumatera, termasuk Palembang dan Lampung.
Bahkan, sejumlah wilayah Indonesia Timur disebut sedang dalam tahap penjajakan.
Langkah ini menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan berbasis komunitas semakin dianggap relevan untuk menjawab kesenjangan pendidikan nasional.
Sekolah Rakyat tidak selalu hadir dalam bentuk gedung sekolah konvensional.
Justru di sinilah letak keunikannya.
Proses belajar bisa dilakukan di balai warga, ruang komunitas, hingga fasilitas publik yang dioptimalkan sebagai tempat belajar bersama.
Materi pembelajaran pun dirancang lebih kontekstual.
Selain pelajaran dasar seperti literasi dan numerasi, peserta juga mendapat pelatihan keterampilan hidup, penguatan karakter, hingga edukasi digital.
Baca Juga: Kondisi Ekonomi Jadi Penentu! Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Masih Digantung Menkeu Purbaya
“Pendekatannya lebih humanis,” begitu gambaran yang sering disampaikan para penggerak komunitas pendidikan.
Jadi bukan sekadar mengejar nilai akademik, tetapi membangun kepercayaan diri peserta didik.
Menariknya, respons masyarakat terhadap Sekolah Rakyat terbilang hangat.
Banyak orang tua yang sebelumnya kesulitan menyekolahkan anak kini melihat peluang baru.
Baca Juga: Gaji Pensiunan ASN Naik atau Tidak? Taspen Angkat Bicara Usai APBN 2026 Disahkan
Ada rasa lega, ada juga harapan baru. Ya, wajar saja.
Program ini membuka akses belajar bagi kelompok rentan yang sebelumnya berada di pinggir sistem pendidikan formal.
Beberapa relawan pendidikan bahkan mengaku jumlah peserta terus meningkat sejak program diperkenalkan.
Ini menjadi sinyal bahwa kebutuhan terhadap model pendidikan alternatif memang nyata.
Meski begitu, perjalanan Sekolah Rakyat tentu tidak tanpa tantangan.
Ketersediaan tenaga pengajar, standardisasi kurikulum, serta keberlanjutan pendanaan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Selain itu, integrasi lulusan Sekolah Rakyat ke sistem pendidikan formal juga menjadi perhatian penting agar peserta memiliki peluang pendidikan lanjutan yang setara.
Namun demikian, pemerintah dan mitra pendidikan terus melakukan evaluasi berkala.
Harapannya, program rintisan ini dapat berkembang menjadi model pendidikan komplementer yang berkelanjutan.
Meluasnya persebaran Sekolah Rakyat menunjukkan satu hal penting, kebutuhan pendidikan inklusif di Indonesia masih sangat besar.
Program ini bukan sekadar proyek percobaan, melainkan langkah awal menuju sistem pembelajaran yang lebih adaptif terhadap realitas sosial masyarakat.
Kalau implementasinya konsisten, bukan tidak mungkin Sekolah Rakyat akan menjadi salah satu inovasi pendidikan paling relevan dalam beberapa tahun ke depan.
Ya, pelan tapi pasti, perubahan itu sedang berjalan.***




