BOGOR.POJOKSATU.id – Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia kembali menjadi sorotan setelah data World Bank menunjukkan masih besarnya jumlah penduduk yang berada di bawah standar kemiskinan internasional untuk negara berpendapatan menengah atas.
Dalam data World Bank April 2026, sekitar 64,2 persen penduduk Indonesia atau setara 184,9 juta orang tercatat hidup dengan pengeluaran di bawah US$8,30 per hari.
Angka tersebut terlihat cukup tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Thailand, misalnya, tercatat berada di kisaran 10,1 persen. Sementara Malaysia hanya sekitar 1 persen berdasarkan standar yang sama.
Namun, angka 64,2 persen tersebut tidak berarti bahwa lebih dari separuh penduduk Indonesia secara resmi masuk kategori miskin.
Pasalnya, World Bank dan Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan serta batas kemiskinan yang berbeda.
World Bank menggunakan garis kemiskinan internasional US$8,30 per hari untuk membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat di negara-negara berpendapatan menengah atas.
Indonesia sendiri telah masuk kelompok negara berpendapatan menengah atas atau upper-middle income sejak 2022.
Sementara itu, BPS menggunakan garis kemiskinan nasional yang disesuaikan dengan pola konsumsi dan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia.
Dengan garis kemiskinan sekitar Rp669 ribu per kapita per bulan, tingkat kemiskinan Indonesia tercatat sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.
Karena itu, angka 64,2 persen dari World Bank lebih tepat dibaca sebagai gambaran besarnya kelompok masyarakat Indonesia yang tingkat pengeluarannya masih berada di bawah standar hidup internasional untuk negara berpendapatan menengah atas.
Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kenaikan status ekonomi Indonesia belum sepenuhnya diikuti peningkatan daya beli dan kesejahteraan yang merata di seluruh lapisan masyarakat. ***



