BOGOR.POJOKSATU.id - Pemerintah memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2026 tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan terbagi dalam dua gelombang.

Prediksi tersebut disampaikan berdasarkan hasil rapat koordinasi lintas sektoral yang membahas kesiapan menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat saat Idulfitri.

Berdasarkan hasil rapat tersebut, puncak arus mudik gelombang pertama diperkirakan terjadi pada 14 hingga 15 Maret 2026.

Periode ini diprediksi menjadi awal meningkatnya pergerakan kendaraan yang meninggalkan wilayah Jakarta dan sekitarnya menuju berbagai daerah tujuan mudik.

Sementara itu, pemerintah juga merancang kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada 16 dan 17 Maret 2026. Kebijakan ini diterapkan sebagai strategi untuk mengurangi penumpukan kendaraan pada satu waktu tertentu.

“Penerapan WFA diharapkan dapat memecah kepadatan kendaraan sehingga arus mudik tidak terkonsentrasi dalam satu hari saja,” demikian disampaikan dalam hasil rapat koordinasi lintas sektoral.

Dengan adanya kebijakan tersebut, pemerintah memprediksi gelombang kedua puncak arus mudik akan terjadi pada 18 hingga 19 Maret 2026.

Periode ini kemungkinan dimanfaatkan oleh masyarakat yang memilih menunda perjalanan setelah kebijakan WFA berlangsung.

Pemerintah mengimbau masyarakat agar merencanakan waktu keberangkatan secara matang untuk menghindari kepadatan di jalur-jalur utama, khususnya di akses keluar Jakarta.

Selain itu, masyarakat juga diminta memanfaatkan periode WFA untuk mempersiapkan perjalanan mudik, mulai dari memastikan kondisi kendaraan hingga mengatur waktu keberangkatan yang lebih fleksibel.

Dengan perencanaan perjalanan yang baik, diharapkan arus mudik Lebaran 2026 dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh pemudik. ***