BOGOR.POJOKSATU.id - Fenomena air laut yang mendadak terlihat surut di kawasan pesisir dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, membuat masyarakat waswas di tengah aktivitas erupsi gunung tersebut.
Rekaman kondisi pesisir yang airnya mundur cukup jauh sebelumnya beredar luas di media sosial. Namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tidak langsung mengaitkan fenomena tersebut dengan ancaman tsunami.
Kepala BMKG Wilayah II, Hartanto mengatakan, belum ditemukan bukti bahwa surutnya air laut berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
BMKG memantau 20 tide gauge atau alat pengukur muka air laut di sekitar Selat Sunda.
Hasilnya, muka air laut pada saat itu masih mengikuti pola pasang-surut astronomis yang normal.
Selain itu, jaringan seismik BMKG tidak mendeteksi adanya longsoran besar pada tubuh gunung, perpindahan massa di bawah laut maupun gempa tektonik yang berpotensi memicu tsunami.
Meski demikian, masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar pesisir Selat Sunda tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
Terutama apabila air laut tiba-tiba surut sangat cepat dan berbeda dari pola pasang-surut biasanya.
Kewaspadaan harus semakin ditingkatkan apabila fenomena tersebut disertai suara gemuruh kuat ataupun muncul gelombang yang tidak biasa.
“Segera menjauh dari pantai menuju tempat tinggi dan ikuti informasi BMKG, PVMBG, serta BPBD,” kata Hartanto.
BMKG menegaskan, rekaman air laut surut yang beredar tersebut sebaiknya dipahami sebagai kondisi lokal dan tidak serta-merta menjadi bukti terjadinya tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau.
Masyarakat pun diminta tidak panik maupun menyebarkan kesimpulan yang belum terkonfirmasi.
Namun mengingat Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas vulkanik, warga pesisir tetap perlu mengikuti informasi resmi dan arahan petugas.
Jika menemukan perubahan muka laut yang tidak wajar, warga disarankan segera menjauhi garis pantai tanpa menunggu peringatan lebih lanjut. ***



