BOGOR.POJOKSATU.id - Sebuah video yang beredar di media sosial memicu perhatian publik setelah memperlihatkan adanya sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis di salah satu sekolah.

Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah guru sedang mengumpulkan sisa makanan sambil membereskan wadah makan atau ompreng setelah jam makan selesai.

Dari tayangan yang beredar, tampak sebuah ember berisi limbah makanan yang disebut berasal dari menu MBG yang tidak habis dikonsumsi para siswa.

Narasi yang menyertai video tersebut menyebutkan bahwa sisa makanan tersebut biasanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak agar tidak terbuang percuma.

Video itu kemudian memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian warganet mempertanyakan mengapa masih banyak makanan yang tersisa, padahal program MBG dirancang untuk meningkatkan asupan gizi peserta didik.

Di sisi lain, ada pula yang menilai kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti kebiasaan makan siswa, jenis menu yang disajikan, porsi makanan, maupun masa adaptasi pada awal pelaksanaan pembelajaran.

"Di video terlihat sisa makanan dikumpulkan setelah jam makan selesai. Biasanya sisa tersebut dimanfaatkan menjadi pakan ternak agar tidak terbuang sia-sia," demikian narasi yang beredar bersama unggahan di media sosial.

Munculnya sisa makanan dalam jumlah tertentu menjadi perhatian karena dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara program.

Sejumlah pihak menilai perlu dilakukan peninjauan terhadap variasi menu, ukuran porsi, hingga edukasi kepada siswa mengenai pentingnya menghabiskan makanan untuk mengurangi potensi pemborosan.

"Program ini bertujuan meningkatkan gizi anak. Karena itu, apabila masih banyak makanan yang tidak dikonsumsi, tentu perlu dilakukan evaluasi agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal," bunyi salah satu tanggapan yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi yang menjelaskan lokasi, waktu, maupun penyebab pasti banyaknya sisa makanan pada video tersebut.

Oleh karena itu, informasi yang beredar masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari pihak terkait agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.***