BOGOR.POJOKSATU.id - Fenomena pasar tenaga kerja di Indonesia menunjukkan sinyal yang mengkhawatirkan. Sebanyak 2,7 juta orang tercatat tidak lagi aktif mencari pekerjaan meski berada dalam usia produktif.

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kelompok discouraged workers, yakni masyarakat yang memilih berhenti mencari kerja karena merasa peluang semakin sempit.

Kelompok ini berbeda dari pengangguran terbuka, Mereka sebenarnya siap bekerja.

Namun tidak lagi melakukan upaya pencarian kerja akibat berbagai faktor, seperti minimnya lowongan yang sesuai, rendahnya upah yang ditawarkan, hingga pengalaman penolakan berulang kali.

Situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil turut memperkuat tren ini. Kenaikan biaya hidup, ketatnya persaingan kerja, serta ketidaksesuaian antara kebutuhan industri.

Dan keterampilan pencari kerja membuat sebagian masyarakat kehilangan optimisme terhadap pasar kerja formal.

Di sisi lain, perubahan pola kerja juga berpengaruh. Munculnya pekerjaan informal, sektor gig, serta usaha mandiri berbasis digital membuat sebagian orang memilih jalur bertahan hidup di luar skema pekerjaan formal.

Namun, pilihan tersebut kerap tidak dibarengi dengan jaminan pendapatan tetap maupun perlindungan sosial.

Pengamat ketenagakerjaan menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah.

Jika tidak ditangani, meningkatnya jumlah masyarakat yang menyerah mencari kerja berpotensi menekan produktivitas nasional dan memperlebar kesenjangan sosial.

Diperlukan kebijakan yang lebih adaptif, mulai dari penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan pelatihan berbasis kebutuhan industri, hingga penguatan sektor usaha kecil dan ekonomi kreatif.

Tanpa langkah konkret, angka jutaan warga yang kehilangan harapan di pasar kerja dikhawatirkan akan terus bertambah. ***