BOGOR.POJOKSATU.id - Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan strategis dengan CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, di Hambalang pada 4 Januari 2026.

Pertemuan tersebut membahas percepatan realisasi proyek hilirisasi nasional yang menjadi prioritas pemerintah.

Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa lima proyek hilirisasi akan memulai proses groundbreaking pada awal Februari 2026.

Total nilai investasi yang disiapkan mencapai sekitar US$ 6 miliar atau setara Rp100 triliun, dengan lokasi proyek tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.

Fokus Hilirisasi dan Waste to Energy

Selain proyek hilirisasi berbasis sumber daya alam, pertemuan juga menyoroti pengembangan proyek Waste to Energy.

Program ini dirancang sebagai solusi ganda, yakni mengurangi persoalan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru melalui pemanfaatan limbah.

Langkah tersebut sejalan dengan visi pemerintah untuk mengintegrasikan pembangunan industri dengan prinsip keberlanjutan dan ekonomi hijau.

18 Proyek Strategis dalam Kelolaan Danantara

Secara keseluruhan, Danantara Indonesia saat ini mengelola 18 proyek hilirisasi strategis di berbagai sektor. Dari jumlah tersebut, 5 hingga 6 proyek direncanakan mulai dibangun secara bertahap sejak Januari 2026.

Beberapa proyek awal yang masuk tahap pelaksanaan antara lain:

- Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR)

- Pabrik bioavtur di Cilacap

- Pabrik bioetanol di Banyuwangi

Proyek-proyek ini mencakup sektor mineral, energi, dan perkebunan yang menjadi tulang punggung hilirisasi nasional.

Perkuat Nilai Tambah dan Ketahanan Ekonomi

Program hilirisasi ini menegaskan arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada penguatan rantai industri hulu hingga hilir.

Tujuannya adalah meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Pemerintah optimistis, percepatan proyek-proyek ini akan membuka lapangan kerja yang diperkirakan akan mencapai 250 ribu pekerja baru, mendorong pertumbuhan industri nasional, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. ***