BOGOR.POJOKSATU.id - Kasus yang terjadi pada balita berusia 1 tahun 8 bulan di Bengkulu benar-benar menggemparkan dunia maya, dimana Khaira Nur Sabrina kini harus menjalani perawatan intensif lantaran cacing dalam tubuhnya.

Setelah dilakukan pengecekan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma, Rudi Syawaludin, mengungkapkan bahwa setelah pihaknya melakukan pemeriksaan langsung ke rumah pasien di Desa Sungai Petai, ditemukan kondisi tempat tinggal yang sangat tidak layak huni.

Menurut Rudi, kasus ini terungkap ketika pihaknya menerima laporan adanya pasien anak dengan gejala mengeluarkan cacing dari mulut dan hidung.

Tim medis kemudian segera turun melakukan investigasi ke rumah dan lingkungan sekitar pasien.

Hasilnya cukup memprihatinkan, rumah sang anak hanya beralaskan tanah dengan dinding papan yang sudah rusak, ditambah banyaknya kotoran ayam berserakan di sekitar area rumah yang berpotensi menjadi sumber infeksi.

Di sisi lain, cacing gelang atau Ascaris lumbricoides merupakan jenis cacing yang paling sering menginfeksi manusia, baik di Indonesia maupun dunia.

Berdasarkan data, sekitar 80 persen penderita merupakan anak usia sekolah, terutama kelompok usia 5–10 tahun.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Riyadi, SpA, Subsp IPT(K), MKes, menjelaskan bahwa tingginya kasus pada kelompok ini erat kaitannya dengan aktivitas anak yang cenderung sering bermain di tanah dan di luar rumah.

Minimnya edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah membuat mereka lebih rentan tertular.

Kelompok rentan kedua adalah anak usia prasekolah 2–5 tahun. Pada fase ini anak sudah mulai berjalan dan aktif bermain di luar rumah.

Menurut dr. Riyadi, edukasi kepada orang tua sangat penting karena anak pada usia ini kerap menganggap benda atau tanah yang mereka temui sebagai mainan baru, sehingga mudah terpapar parasit.

Lebih lanjut, dr. Riyadi menambahkan sekitar seperdelapan populasi dunia telah terinfeksi cacing gelang.

Parasit ini berkembang biak dengan baik di lingkungan hangat dan lembap, sehingga negara tropis seperti Indonesia menjadi habitat yang ideal bagi siklus hidupnya. ***