POJOKBOGOR.ID – Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih dianggap sebagai pekerjaan impian bagi banyak orang di Indonesia.
Gaji stabil, pekerjaan tetap, dan masa depan yang dianggap lebih aman membuat seleksi CPNS selalu dipadati pelamar.
Namun tidak semua orang berhasil meraih mimpi tersebut, meski sudah berjuang keras.
Kisah ini dialami seorang pria berusia 28 tahun yang disamarkan dengan nama Utama. Sebagaimana yang diungkap media Mojok.co pada 8/3/2026.
Ia sudah dua kali mengikuti seleksi CPNS dan bahkan sempat meraih nilai tertinggi. Sayangnya, nasib berkata lain.
Nilai Tertinggi Tapi Gagal di Tes Fisik
Utama merupakan lulusan Diploma IV Teknik Informatika yang memiliki kemampuan akademik cukup baik.
Ia juga dikenal mahir menggunakan komputer dan cukup percaya diri saat berbicara.
Pada tahun 2017, ia mengikuti seleksi CPNS untuk formasi penjaga tahanan.
Baca Juga: THR Pensiunan Cair! Taspen Salurkan Tunjangan untuk Lebih dari 3 Juta Penerima di Seluruh Indonesia
Di tahap Seleksi Kompetensi Dasar (SKD), ia berhasil meraih skor 386, yang saat itu menjadi nilai tertinggi di provinsinya untuk formasi tersebut.
Namun perjalanan menuju status ASN tidak berjalan mulus.
Utama harus mengikuti tes fisik yang menjadi salah satu syarat kelulusan.
Saat itu ia memiliki berat badan berlebih sehingga kesulitan mengikuti tes lari dan ketangkasan.
Akibatnya, ia gagal melanjutkan seleksi meski memiliki nilai tertinggi di tahap sebelumnya.
Kemenangan yang Berubah Jadi Kekecewaan
Dua tahun kemudian, kesempatan datang lagi.
Pada tahun 2019, Utama mencoba peruntungan di formasi Analis Sistem Informasi di salah satu pemerintah daerah.
Baca Juga: THR ASN Ngawi Rp48 Miliar Siap Cair, Pemkab Tinggal Tunggu Aturan Teknis dari Pusat
Persaingan saat itu sangat ketat. Satu kursi diperebutkan oleh 69 peserta.
Namun sekali lagi Utama menunjukkan kemampuannya. Ia kembali memperoleh nilai tinggi dan bahkan dinyatakan lulus di peringkat pertama.
Kebahagiaan pun sempat dirasakan oleh dirinya dan keluarga. Ayahnya yang sudah tua bahkan hampir menangis haru.
Sayangnya, kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar.
Saat tahap pemberkasan, pihak verifikator menyatakan bahwa ijazah D-IV Teknik Informatika miliknya tidak sesuai dengan kualifikasi S-1 yang dipersyaratkan.
Baca Juga: Bantuan Pangan 2026 Cair! Warga Dapat Beras 20 Kg dan Minyak 4 Liter, Ini Jadwal Penyalurannya
Akibatnya, Utama dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dan kelulusannya dibatalkan.
Bangkit Lewat Pekerjaan Baru
Kegagalan tersebut sempat membuat Utama terpuruk.
Ia merasa usaha dan pendidikan yang ditempuhnya selama ini seolah sia-sia.
Namun kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus bangkit.
Suatu hari, ia menemukan lowongan kerja di sebuah perusahaan logistik yang membuka cabang di dekat tempat tinggalnya.
Syaratnya cukup sederhana, yaitu minimal lulusan SMA.
Baca Juga: Akhirnya! Pemprov Jambi Beri THR untuk PPPK Paruh Waktu, Setiap Pegawai Dapat Rp1 Juta
Utama pun memutuskan melamar menggunakan ijazah SMA miliknya.
Tak disangka, proses rekrutmen berjalan lancar dan ia langsung diterima bekerja sebagai staf operasional gudang.
Menemukan Kebahagiaan dengan Cara Berbeda
Kini Utama menjalani hari-harinya dengan bekerja mengatur paket, membantu jadwal kurir, hingga mendata barang yang masuk ke gudang.
Kemampuan komputernya juga membantu perusahaan merapikan sistem pendataan barang yang sebelumnya kurang tertata.
Baca Juga: Mahasiswa Penerima KIP Dilarang Flexing di Medsos, Bisa Picu Reaksi Negatif Masyarakat
Berkat hal itu, ia mulai dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar.
Bagi Utama, kebahagiaan sekarang bukan lagi soal menjadi PNS, tetapi bisa membantu keluarganya.
Ia sudah bisa memberikan uang belanja setiap bulan kepada orang tuanya.
Kisah Utama menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.
Meski dua kali gagal dalam seleksi CPNS, ia akhirnya menemukan jalan hidup lain yang tetap bisa memberikan penghidupan bagi keluarganya.
Terkadang, rencana hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan.***




