POJOKBOGOR.id - Gaya hidup masyarakat urban kini kian lekat dengan aktivitas duduk.

Mulai dari bekerja berjam-jam di depan laptop, menonton serial favorit, hingga scroll ponsel tanpa sadar, semua dilakukan dalam posisi yang sama yakni duduk dan minim gerak.

Kebiasaan ini perlahan membentuk pola hidup sedentari, sebuah kondisi ketika tubuh hampir tidak melakukan aktivitas fisik berarti dalam waktu lama.

Sekilas tampak sepele, namun dampaknya bisa serius bagi kesehatan.

Berbagai studi menunjukkan bahwa terlalu lama duduk tidak bisa ditebus hanya dengan olahraga sesekali.

Bahkan, penelitian tentang perilaku sedentari yang diukur menggunakan akselerometer mengungkapkan, menghabiskan lebih dari 10 jam per hari dalam kondisi tidak aktif dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan kesehatan lain di masa depan.

Artinya, konsistensi bergerak dan mengurangi waktu duduk menjadi kunci penting menjaga tubuh tetap sehat, bukan sekadar rajin olahraga di akhir pekan.

Berikut sejumlah risiko penyakit yang mengintai akibat gaya hidup minim gerak:

Berat badan naik hingga obesitas

Saat tubuh jarang bergerak, pembakaran kalori otomatis menurun.

Otot yang jarang digunakan tidak menghasilkan energi optimal.

Jika kondisi ini dibarengi asupan kalori berlebih, berat badan akan naik perlahan dan berujung pada penumpukan lemak berlebih.

Tekanan darah tak terkontrol

Kurang aktivitas fisik membuat jantung dan pembuluh darah bekerja tidak maksimal.

Aliran darah menjadi kurang efisien, sehingga tekanan darah lebih mudah meningkat.

Sebaliknya, aktivitas fisik rutin membantu menjaga elastisitas pembuluh darah.

Ancaman penyakit jantung

Kebiasaan duduk terlalu lama membuat sistem kardiovaskular melemah.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu penumpukan plak di arteri, mengganggu aliran darah, dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Diabetes tipe 2 mengintai

Tubuh yang jarang bergerak lebih rentan mengalami resistensi insulin.

Akibatnya, kadar gula darah sulit terkontrol dan risiko diabetes tipe 2 pun meningkat, terutama pada mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya tanpa aktivitas fisik.

Risiko kanker meningkat

Sejumlah riset juga mengaitkan gaya hidup sedentari dengan peningkatan risiko kanker tertentu, seperti kanker usus besar, paru-paru, dan kanker rahim.

Kurang gerak dan kelebihan berat badan dapat memicu ketidakseimbangan hormon, peradangan kronis, serta gangguan metabolisme yang berperan dalam perkembangan kanker.

Melihat dampaknya, mulai menyelipkan aktivitas sederhana seperti berdiri, berjalan ringan, atau peregangan di sela aktivitas duduk panjang bisa menjadi langkah awal yang berarti.

Tubuh pun butuh diajak bergerak, bukan hanya duduk diam seharian.