BOGOR.POJOKSATU.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjadi sorotan setelah menyinggung guru, orang tua siswa, wartawan hingga oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam ramainya polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sudaryono menilai pelaksanaan MBG secara keseluruhan di lapangan sebenarnya tidak menghadapi persoalan sebesar yang terlihat di media sosial.
Menurutnya, ramainya berbagai isu seputar MBG juga dipengaruhi faktor ideologis dan politis.
“Yang ramein gurunya, yang ramein orang tua siswanya, yang ramein adalah wartawannya, yang ramein adalah orang-orang oknum LSM dan lain sebagainya, itu ideologis politis,” kata Sudaryono, dikutip Senin, 14 September 2026.
Sudaryono menyebut masyarakat penerima manfaat secara umum tidak mempermasalahkan MBG. Menurutnya, perdebatan justru terlihat lebih besar di media sosial.
Meski demikian, pernyataan tersebut bukan berarti BGN menutup mata terhadap persoalan yang terjadi dalam pelaksanaan program.
Sudaryono sebelumnya mengakui adanya kasus keracunan MBG akibat kelalaian petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia bahkan menyebut lebih dari 80 persen kasus keracunan yang ditanganinya berkaitan dengan pelanggaran standar operasional prosedur.
BGN juga mengambil langkah tegas dengan menutup sementara 1.999 dapur SPPG yang belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Penutupan dilakukan untuk proses investigasi sekaligus memastikan keamanan makanan bagi penerima manfaat.
Sudaryono menegaskan disiplin terhadap petugas MBG tetap akan diterapkan meski langkah tersebut memunculkan keluhan dari internal.
Petugas maupun kepala SPPG yang terbukti melakukan pelanggaran berat bahkan terancam dicopot hingga diusulkan diberhentikan apabila kelalaiannya menyebabkan kejadian fatal.
Dengan demikian, polemik MBG kini bukan hanya menyangkut persoalan teknis penyediaan makanan, tetapi juga bagaimana pemerintah merespons kritik dari guru, orang tua, media dan masyarakat terhadap program tersebut.***



