BOGOR.POJOKSATU.id – Memiliki gelar sarjana kini bukan lagi jaminan utama untuk mendapatkan pekerjaan.

Seiring berubahnya kebutuhan dunia industri, banyak perusahaan mulai mengutamakan keterampilan atau skill yang dimiliki kandidat dibandingkan latar belakang pendidikan formal.

Hal tersebut terungkap dalam Laporan Dampak Micro Credentials 2026 yang diterbitkan oleh Coursera.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa sekitar 98 persen perusahaan di tujuh negara telah menerapkan sistem rekrutmen berbasis keterampilan, terutama untuk mengisi posisi entry level.

Dalam laporannya, Coursera mengungkapkan bahwa bukti kemampuan melalui micro credentials kini menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan oleh perusahaan saat menyeleksi calon karyawan.

Sebanyak 95 persen pemberi kerja menyebut micro credentials menjadi pembeda utama di antara para pelamar.

Bahkan, 87 persen di antaranya menilai sertifikasi keterampilan tersebut lebih berpengaruh dalam proses perekrutan dibandingkan indikator tradisional seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun nama perguruan tinggi asal pelamar.

Menurut Coursera, perubahan ini terjadi karena perkembangan dunia kerja berlangsung sangat cepat.

Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang telah memiliki kompetensi praktis dan siap beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan sejak hari pertama.

Laporan tersebut juga menunjukkan dampak positif dari perekrutan berbasis keterampilan.

Sebanyak 92 persen perusahaan menyatakan bahwa karyawan entry level yang memiliki micro credentials mampu menunjukkan produktivitas dan performa kerja yang lebih baik selama tahun pertama mereka bekerja.

Temuan ini menjadi sinyal bahwa pengembangan keterampilan melalui pelatihan, sertifikasi profesional, maupun pembelajaran daring kini memiliki nilai yang semakin penting di mata dunia industri.

Bagi para pencari kerja, kemampuan yang relevan dan dapat dibuktikan menjadi salah satu modal utama untuk bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.***