BOGOR.POJOKSATU.id - Hantavirus menjadi sorotan setelah muncul sejumlah laporan kasus di berbagai negara. Virus ini dikenal sebagai penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Hantavirus umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit, terutama melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur hewan yang telah terinfeksi.
Meski kasusnya tergolong langka, infeksi hantavirus dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan karena menyerang organ vital, terutama paru-paru dan ginjal.
Pada beberapa kasus, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan berat hingga penurunan fungsi ginjal yang berbahaya.
Gejala awal infeksi biasanya menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, lemas, serta mual. Namun, kondisi dapat berkembang menjadi lebih serius dalam waktu singkat.
Penderita juga dapat mengalami sesak napas, batuk, gangguan pernapasan akut, hingga pendarahan hebat. Dalam kondisi parah, infeksi hantavirus bahkan bisa berujung pada kematian.
Para ahli menyebut penyebaran virus ini tidak semasif penyakit seperti COVID-19 maupun influenza karena penularan antarmanusia sangat jarang terjadi.
Sebagian besar kasus terjadi akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat, terutama di area yang kotor atau memiliki populasi tikus tinggi.
Secara global, jumlah kasus hantavirus diperkirakan mencapai 150 ribu hingga 200 ribu kasus setiap tahun.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar guna mencegah berkembangnya populasi tikus dan mencit.
Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain menutup akses masuk hewan pengerat ke dalam rumah, membersihkan area yang kotor dengan alat pelindung, serta menjaga sanitasi lingkungan tetap baik.
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada gangguan pernapasan atau demam setelah terpapar lingkungan yang diduga terkontaminasi hewan pengerat.***



