BOGOR.POJOKSATU.id – Potret dunia pendidikan yang memprihatinkan masih ditemukan di wilayah Jawa Barat. SMP SCBP yang berada di Kampung Tarisi, Desa Malati, Kecamatan Naringgul, Cianjur Selatan, menjadi salah satu contohnya.
Sekolah tersebut hanya memiliki satu ruang belajar yang digunakan bersama oleh siswa kelas 7, 8, dan 9. Kondisi bangunannya pun jauh dari kata layak.
Dinding sekolah masih menggunakan triplek, sementara lantainya berupa tanah. Pada sejumlah bagian, dinding terlihat berlubang dan kondisi atap juga belum sepenuhnya memadai.
Fasilitas sanitasi pun sangat terbatas karena toilet berada di luar bangunan utama sekolah. Meski menghadapi keterbatasan tersebut, proses belajar mengajar tetap berlangsung.
Keberadaan sekolah ini justru menjadi harapan bagi anak-anak di sekitar Kampung Tarisi yang kesulitan menjangkau sekolah lain.
Salah seorang siswa mengaku harus berjalan kaki sekitar satu jam apabila ingin bersekolah ke kawasan Gunung Batu.
Kondisi geografis dan jarak tempuh yang cukup jauh membuat SMP SCBP menjadi pilihan penting bagi warga sekitar.
Sekolah tersebut diketahui telah berdiri selama sekitar tiga tahun. Pada tahun lalu, SMP SCBP bahkan sudah meluluskan angkatan pertamanya.
Setiap tahun masih ada siswa baru yang mendaftar, meski jumlahnya tidak terlalu banyak.
Kegiatan belajar mengajar hanya ditangani empat orang guru yang seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar.
Para guru tetap bertahan mengajar meski harus menghadapi keterbatasan fasilitas. Di sekitar sekolah, kondisi sejumlah rumah warga juga disebut masih belum layak huni.
Di tengah segala keterbatasan itu, aktivitas pendidikan tetap berjalan karena masih ada orang tua yang mempercayakan masa depan anak-anak mereka kepada sekolah tersebut.
Kondisi SMP SCBP menjadi gambaran bahwa pemerataan fasilitas pendidikan di Jawa Barat masih membutuhkan perhatian serius, terutama di daerah terpencil dan sulit dijangkau.***



