BOGOR.POJOKSATU.id - Perbincangan mengenai besaran anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di media sosial.
Setelah Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa alokasi bahan makanan berada di kisaran Rp8.000–Rp10.000 per porsi, sejumlah warganet mempertanyakan apakah nominal tersebut cukup untuk menghadirkan menu yang benar-benar bergizi.
Sebagian komentar bernada skeptis bahkan menyebut, dengan angka Rp8.000 per porsi, kualitas makanan dikhawatirkan tidak optimal.
Menanggapi hal itu, Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik S Deyang, sebelumnya telah menegaskan bahwa angka Rp8.000–Rp10.000 memang diperuntukkan khusus untuk bahan baku makanan.
“Anggaran bahan baku makanan dalam program MBG itu Rp8.000 sampai Rp10.000 per porsi, bukan Rp15.000,” ujar Nanik dalam keterangannya.
Ia menjelaskan bahwa total anggaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per porsi tidak hanya digunakan untuk bahan makanan, melainkan juga mencakup biaya operasional, distribusi, serta insentif mitra pelaksana.
Di media sosial, sejumlah pengguna mempertanyakan standar gizi yang diterapkan serta mekanisme pengawasan di lapangan.
Mereka menilai transparansi menu dan komposisi bahan perlu diperjelas agar tidak menimbulkan spekulasi.
"Dengan harga segitu, emang masih pada yakin kualitas menu nya bakal lebih baik?" ungkap seorang netizen.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan tetap membuka ruang evaluasi dan pelaporan jika terdapat indikasi menu tidak sesuai dengan ketentuan.
Program MBG sendiri dirancang untuk menjangkau anak sekolah, balita, hingga ibu menyusui. Dengan cakupan penerima manfaat yang luas, pengelolaan anggaran dan kualitas menu menjadi sorotan publik, terutama saat pelaksanaan di bulan Ramadan.
Perdebatan ini menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap isu gizi dan pengelolaan anggaran publik.
Sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengawasan serta keterbukaan informasi dalam pelaksanaan program sosial berskala nasional. ***



