BOGOR.POJOKSATU.id – Selama ini pilihan kontrasepsi untuk pria umumnya terbatas pada kondom dan vasektomi. Namun, perkembangan terbaru membuka peluang hadirnya metode baru berupa pil KB pria nonhormonal.
Obat tersebut bernama YCT-529, kandidat kontrasepsi oral yang dikembangkan melalui riset University of Minnesota bersama Columbia University dan YourChoice Therapeutics.
YCT-529 bekerja dengan menghambat jalur reseptor asam retinoat alfa atau RAR-alpha yang berkaitan dengan vitamin A dan berperan penting dalam proses pembentukan sperma.
Hasil penelitian pada hewan menunjukkan hasil menjanjikan. Dalam uji perkawinan pada tikus, YCT-529 dilaporkan memiliki efektivitas sekitar 99 persen dalam mencegah kehamilan. Penelitian juga menunjukkan efek kontrasepsinya dapat kembali normal setelah pemberian obat dihentikan.
Namun, angka 99 persen tersebut bukan hasil uji efektivitas pada manusia.
YCT-529 telah melewati uji klinis fase 1a terhadap 16 pria sehat. Penelitian awal itu terutama menguji keamanan, tolerabilitas, dan bagaimana obat diproses tubuh. Hasilnya menunjukkan kandidat pil tersebut dapat ditoleransi dengan baik dalam dosis yang diuji.
Pengembangannya kini berlanjut ke studi fase 1b/2a dengan pemberian berulang selama 28, 90 hingga 180 hari untuk mengevaluasi keamanan sekaligus dampaknya terhadap produksi sperma.
Artinya, pria di Indonesia belum bisa membeli atau menggunakan YCT-529 sebagai pil KB resmi.
Obat tersebut masih berstatus investigasional dan efektivitasnya dalam mencegah kehamilan pada manusia belum terbukti.
Jika rangkaian uji klinis berikutnya berhasil dan akhirnya mendapat persetujuan regulator, YCT-529 berpotensi memperluas pilihan kontrasepsi pria selain kondom dan vasektomi.
Kehadiran pil KB pria juga berpotensi membuat tanggung jawab kontrasepsi tidak hanya bertumpu pada perempuan, melainkan dapat dibagi lebih seimbang oleh pasangan.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu menunggu hasil penelitian lanjutan. Kandidat obat yang berhasil pada hewan maupun uji keamanan awal belum otomatis dapat digunakan secara luas. Penggunaan kontrasepsi tetap sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.***



