BOGOR.POJOKSATU.id - Sejak Minggu, 29 Juni 2025, linimasa media sosial dipenuhi unggahan warga dari Jakarta, Depok, dan Bekasi yang kompak membuat satu frasa menjadi tren: “Bogor sekarang kirim kabut, bukan banjir.”

Ungkapan ini, yang semula bernada sindiran, justru berubah menjadi bentuk kebanggaan akan perubahan citra Kota Bogor yang kini dianggap sebagai penyumbang udara sejuk untuk kawasan Jabodetabek.

Bagi warga Bogor sendiri, tren ini justru disambut santai. Tak banyak kata yang mereka ucapkan, hanya senyum sambil menikmati kopi di balkon rumah yang diselimuti kabut pagi.

Sebab memang, kadang perubahan besar tidak perlu dideklarasikan, cukup dirasakan. Fenomena kabut yang menyelimuti wilayah Jabodetabek sejak pagi hingga malam itu terbilang tidak biasa dan segera menjadi buah bibir warga.

Banyak yang mengaku belum pernah melihat kabut setebal itu, terutama di daerah seperti Bekasi, Jakarta, dan Depok yang cenderung berada di dataran rendah.

Menanggapi fenomena ini, Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di kawasan Jabodetabek dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti curah hujan yang tinggi, kelembapan udara yang meningkat, serta pergerakan angin.

Ia juga menyebut bahwa Puncak Bogor, sebagai wilayah dataran tinggi, memang memiliki kecenderungan menghasilkan udara yang lebih sejuk.

Namun, munculnya kabut di daerah dataran rendah seperti Depok dan Bekasi disebabkan oleh kombinasi kondisi meteorologis yang terjadi sejak hari sebelumnya.

BMKG mencatat bahwa hujan merata mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Sabtu, 28 Juni, dari siang hingga malam hari. Hujan ini disusul oleh tutupan awan tebal dan hujan ringan yang masih berlangsung pada keesokan harinya.

Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara menurun drastis dan kelembapan meningkat, yang kemudian memicu terbentuknya kabut tebal. Data suhu udara yang dirilis BMKG menunjukkan penurunan cukup signifikan.

Di wilayah timur Bekasi dan Jakarta Utara, suhu tercatat sekitar 23,1°C, Jakarta Timur berada di kisaran 23,3°C, dan Depok mencatat suhu terendah yakni 22,1°C pada dini hari.

Suhu rendah inilah yang menjadi faktor utama pembentukan kabut di berbagai wilayah.

Meski fenomena ini tergolong alami, BMKG tetap mengingatkan bahwa di kawasan perkotaan dan industri, kabut juga berpotensi tercampur dengan polusi udara, yang dapat berdampak pada kualitas udara secara keseluruhan.

Namun di luar sisi teknis dan ilmiahnya, fenomena kabut kali ini membawa sentimen positif yang tak terduga. Bogor, yang selama ini kerap disebut sebagai sumber masalah banjir bagi wilayah tetangga, kini dipandang sebagai “penyejuk alami” kawasan metropolitan.

Fenomena yang sebelumnya menjadi olok-olok, justru menjadi titik balik narasi: bahwa Bogor tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga udara segar yang dirindukan oleh jutaan penduduk di Jabodetabek. ***