BOGOR.POJOKSATU.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi terkait prakiraan posisi hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026, yang menjadi salah satu acuan dalam penentuan awal 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri.

Informasi tersebut disusun berdasarkan data hisab atau perhitungan astronomi mengenai posisi bulan yang nantinya digunakan sebagai rujukan dalam pelaksanaan rukyatul hilal atau pengamatan bulan sabit muda.

Dalam keterangannya, BMKG menjelaskan bahwa jarak waktu antara konjungsi sebelumnya, yaitu awal Ramadan 1447 H, hingga konjungsi berikutnya yang menandai awal Syawal 1447 H diperkirakan mencapai 29 hari 13 jam 22 menit.

“Periode sinodis Bulan terhitung sejak konjungsi sebelumnya (awal Bulan Ramadan 1447 H) hingga konjungsi yang akan datang (awal Bulan Syawal 1447 H) adalah 29 hari 13 jam 22 menit. Waktu terbenam Matahari dinyatakan ketika bagian atas piringan Matahari tepat di horizon teramati,” demikian keterangan BMKG.

Berdasarkan perhitungan tersebut, terdapat kemungkinan besar bulan Ramadan tahun ini akan digenapkan menjadi 30 hari.

Jika kondisi tersebut terjadi, maka Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah diperkirakan akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 dengan kondisi cuaca yang diperkirakan cerah berawan.

Meski demikian, penetapan resmi tanggal Idulfitri di Indonesia tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah setelah melakukan pengamatan hilal di berbagai titik di seluruh wilayah Indonesia.***