BOGOR.POJOKSATU.id - Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting atau SMRC menunjukkan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan dalam simulasi pemilihan presiden yang digelar pada Juli 2026.

Dalam simulasi semi terbuka dengan 20 nama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berada di posisi pertama dengan dukungan 35 persen.

Prabowo menempati urutan kedua dengan 14,5 persen, disusul Anies Baswedan 8,2 persen dan Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyatakan, apabila pemilihan presiden dilakukan ketika survei berlangsung, peluang Prabowo untuk kembali terpilih dinilai menurun. Jarak dukungan antara Dedi dan Prabowo mencapai 20,5 poin persentase.

SMRC mencatat elektabilitas Prabowo dalam simulasi semi terbuka turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 14,5 persen pada Juli 2026.

Sebaliknya, dukungan terhadap Dedi meningkat dari 19,7 persen menjadi 35 persen pada periode yang sama.

Penurunan elektabilitas itu muncul setelah survei SMRC sebelumnya mencatat kepuasan terhadap kinerja Prabowo turun dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026. Warga yang kurang atau tidak puas mencapai 46,9 persen.

Keunggulan Dedi terlihat semakin lebar dalam simulasi dua nama. Pada skenario head to head, Dedi memperoleh dukungan 59 persen, sedangkan Prabowo meraih 28,3 persen. Sementara itu, 12,7 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.

Survei nasional tersebut dilaksanakan pada 5 hingga 19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 warga Indonesia yang telah memiliki hak pilih.

Sebanyak 605 responden pemilik telepon seluler diwawancarai melalui telepon, sedangkan 144 responden tanpa telepon diwawancarai secara tatap muka.

SMRC menyebut survei memiliki margin of error sekitar plus minus 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Meski menunjukkan perubahan besar, hasil survei ini merupakan gambaran opini publik saat pengambilan data, bukan kepastian hasil Pemilu 2029.

Pilihan masyarakat masih dapat berubah mengikuti dinamika politik, ekonomi, kinerja pemerintah, dan kemunculan calon lain dalam beberapa tahun mendatang menjelang tahapan pemilihan presiden berikutnya. ***