BOGOR.POJOKSATU.id - Bayangkan sebuah benua besar yang tampak diam di mata manusia, namun sebenarnya terus bergerak perlahan ke arah utara menuju Indonesia.
Itulah yang sedang terjadi pada Benua Australia, yang berdasarkan pengukuran satelit, bergeser sekitar 7 sentimeter setiap tahun. Gerakan ini terjadi sangat lambat, tetapi konstan, layaknya mobil super pelan yang tetap melaju tanpa henti.
Fenomena ini bukan sekadar teori. Para ilmuwan geologi menemukan bahwa lempeng tektonik Australia secara perlahan terdorong ke arah Asia Tenggara, khususnya menuju kawasan Papua Nugini dan Indonesia bagian timur.
Pergeseran ini disebabkan oleh dinamika lempeng bumi, di mana lempeng Australia menekan lempeng Eurasia di utara.
Walau manusia tidak bisa merasakan pergerakan tersebut, satelit navigasi global (GPS) mampu mendeteksi pergeseran benua dengan tingkat akurasi luar biasa.
Menurut data geospasial terbaru, posisi daratan Australia kini bergeser beberapa meter dari posisi awalnya sejak pengukuran pertama dilakukan beberapa dekade lalu.
Ilmuwan memperkirakan bahwa jika pergerakan ini terus berlanjut tanpa perubahan arah, maka dalam 50 juta tahun mendatang, Australia akan benar-benar menabrak wilayah Papua Nugini dan sebagian Indonesia timur.
Benturan besar ini tidak akan terjadi tiba-tiba, tetapi akan berlangsung dalam skala waktu geologi yang sangat panjang menciptakan rangkaian pegunungan raksasa baru di kawasan tersebut.
“Ketika dua benua bertabrakan, seperti halnya India dan Asia yang membentuk Pegunungan Himalaya, hasilnya bisa sangat dramatis,” ujar seorang ahli geotektonik dari Geoscience Australia. “Australia sedang menuju ke arah yang sama hanya saja kita tidak akan menyaksikan puncaknya dalam waktu dekat.”
Pergerakan lempeng ini juga memiliki dampak yang bisa dirasakan sekarang. Pergeseran konstan antara lempeng Australia dan lempeng Eurasia berperan dalam aktivitas seismik di kawasan Indonesia timur, termasuk Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur, di mana gempa bumi kerap terjadi akibat tumbukan dua lempeng besar tersebut.
Dengan kata lain, perjalanan pelan benua Australia ini sebenarnya menjadi bagian dari proses alam yang membentuk wajah Bumi.
Gunung-gunung, lembah, dan pulau-pulau yang kita lihat saat ini adalah hasil dari tabrakan dan geseran lempeng tektonik yang terjadi selama jutaan tahun.
Fenomena ini juga menunjukkan betapa planet kita terus berubah meskipun tampak stabil.
Benua yang kita pijak hari ini bukanlah entitas tetap, melainkan bagian dari permukaan Bumi yang terus bergerak dalam tarian geologi yang lambat tapi pasti.
Jika dibayangkan, pergeseran 7 sentimeter per tahun mungkin tampak sepele sepanjang ibu jari manusia tetapi dalam skala waktu geologi, itu cukup untuk mengubah peta dunia.
Dan seperti yang dikatakan para ilmuwan dengan nada bercanda, ini adalah “kecelakaan mobil paling lambat di dunia”, di mana dua benua raksasa perlahan bergerak menuju satu sama lain dalam perjalanan panjang menuju tabrakan megah jutaan tahun ke depan. ***



