BOGOR.POJOKSATU.id - Sejumlah negara telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Dalam daftar yang beredar, negara seperti Oman, Turki, Singapura, Australia, hingga Prancis menetapkan awal puasa berdasarkan metode hisab astronomi atau kriteria visibilitas hilal.
Lalu, apakah Indonesia akan memulai puasa di tanggal yang sama?
Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan dilakukan melalui mekanisme sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Proses ini memadukan metode hisab atau perhitungan astronomi dan rukyat pengamatan hilal langsung.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag biasanya menegaskan bahwa keputusan resmi baru diumumkan setelah hasil rukyatulhilal di berbagai titik pengamatan dikaji secara menyeluruh.
“Penetapan awal Ramadhan di Indonesia menunggu hasil sidang isbat yang mempertimbangkan data hisab dan laporan rukyat di lapangan,” demikian penjelasan resmi Kemenag pada tahun-tahun sebelumnya.
Secara astronomi, jika posisi hilal pada 29 Syaban sudah memenuhi kriteria imkan rukyat memungkinkan terlihat, maka besar kemungkinan awal Ramadhan jatuh pada 19 Februari 2026.
Namun apabila hilal belum memenuhi syarat visibilitas, maka puasa bisa dimulai sehari setelahnya.
Perbedaan metode penetapan memang kerap membuat awal Ramadhan tidak selalu seragam antarnegara.
Beberapa negara menggunakan hisab murni, sementara Indonesia tetap menunggu konfirmasi rukyat sebagai bagian dari tradisi dan ketentuan fikih yang berlaku.
Dengan demikian, kepastian apakah Indonesia akan memulai puasa pada Kamis, 19 Februari 2026, masih menunggu hasil sidang isbat resmi.
Masyarakat diimbau untuk mengikuti pengumuman pemerintah agar pelaksanaan ibadah dapat berjalan serentak dan tertib.
Apa pun tanggalnya nanti, semangat menyambut bulan suci tetap sama memperbanyak ibadah, menjaga persatuan, dan mempersiapkan diri secara lahir maupun batin.***



