BOGOR.POJOKSATU.id - Pemerintah mengambil langkah intensif untuk menekan risiko banjir besar di kawasan Jabodetabek dengan memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.
Hingga akhir Januari 2026, sebanyak enam pesawat dikerahkan secara bersamaan untuk melakukan penyemaian awan guna mengendalikan potensi hujan ekstrem.
Dalam operasi yang berlangsung lintas wilayah ini, tercatat sekitar 32 ton bahan semai telah disebarkan di sejumlah titik strategis di atmosfer.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi intensitas hujan lebat yang berpotensi memicu banjir di wilayah Jakarta dan daerah penyangga.
Penguatan armada OMC dilakukan sebagai respons atas peringatan cuaca dari BMKG yang memprediksi tingginya intensitas hujan pada puncak musim penghujan.
BNPB yang sebelumnya menyiagakan dua pesawat, kini meningkatkan kapasitas operasional menjadi enam unit.
Empat pesawat dioperasikan langsung oleh BNPB, sementara dua unit lainnya merupakan dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. Operasi ini mencakup wilayah Jakarta serta kawasan penyangga seperti Bogor hingga Bekasi.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa teknologi modifikasi cuaca tidak dimaksudkan untuk menghilangkan hujan sepenuhnya, melainkan menurunkan intensitasnya agar lebih terkendali.
“Awan cumulonimbus yang bergerak dari arah barat kami hadang agar hujan ekstrem yang berpotensi turun bisa berubah menjadi hujan lebat atau sedang,” ujar Abdul Muhari.
Secara teknis, penyemaian awan difokuskan di wilayah Bogor dan Bekasi dengan ketinggian terbang antara 5.000 hingga 8.000 kaki.
Bahan semai yang digunakan adalah kalsium oksida, yang berfungsi mempercepat proses hujan agar tidak terjadi penumpukan awan hujan ekstrem di satu wilayah.
Operasi skala besar ini didukung anggaran signifikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalokasikan dana sekitar Rp31 miliar dalam APBD 2026 untuk mendukung pelaksanaan OMC. Durasi operasi juga diperpanjang hingga 27 Januari 2026.
Hasil evaluasi sementara menunjukkan dampak positif dari upaya ini. BNPB mencatat efektivitas OMC mencapai sekitar 48 persen, sementara BMKG melaporkan penurunan intensitas curah hujan sebesar 39,57 persen pada periode 16–22 Januari 2026.
Meski demikian, pemerintah tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. BMKG memperingatkan bahwa potensi angin kencang masih dapat terjadi di sebagian wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari ke depan, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.
Langkah penguatan OMC ini diharapkan mampu mengurangi risiko banjir sekaligus memberi waktu bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
Jadi sekarang kalian semua sudah tahu kan kenapa dua hari ini curah hujan sudah mulai menurun dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. ***



