Oleh: H. Moh Romli (Sekretaris PCNU Kota Bogor dan dosen IAI-N Laa roiba)

POJOKBOGOR.id - Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda.

Masjid kembali hidup, lantunan ayat suci terdengar lebih sering, dan semangat berbagi terasa menghangatkan kehidupan sosial umat.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada satu perubahan yang semakin nyata: Ramadhan tidak lagi hanya berlangsung di ruang ibadah dan lingkungan keluarga, tetapi juga di layar ponsel.

Linimasa media sosial mendadak religius.

Kutipan ayat Al-Qur’an berseliweran, ceramah singkat berdurasi satu menit menjadi konsumsi harian, dan aktivitas ibadah hadir dalam berbagai format visual.

Dokumentasi berbagi takjil, rekaman doa di sepertiga malam, hingga refleksi spiritual pribadi kini menjadi bagian dari ruang publik digital.

Fenomena ini menandai perubahan penting dalam cara umat Islam mengekspresikan keberagamaan.

Agama tidak lagi hanya dijalankan, tetapi juga ditampilkan.

Pertanyaannya kemudian menjadi relevan: apakah ini bentuk dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, atau justru tanda bergesernya spiritualitas menuju panggung pencitraan?

Allah SWT menegaskan bahwa tujuan utama puasa bukanlah tampilan lahiriah, melainkan pembentukan ketakwaan:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa esensi Ramadhan terletak pada transformasi batin, bukan sekadar ekspresi yang terlihat oleh orang lain.

Dakwah dalam Logika Algoritma

Tidak dapat disangkal, media sosial membuka peluang besar bagi dakwah Islam.

Batas geografis runtuh; pesan keagamaan dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik.

Generasi muda yang mungkin enggan mengikuti pengajian konvensional kini dapat memperoleh pesan moral melalui konten digital yang ringan dan komunikatif.

Dakwah menjadi lebih demokratis. Siapa pun dapat menyampaikan pesan kebaikan, sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari).

Media sosial, dalam konteks ini, menjadi medium baru penyebaran nilai-nilai Islam.

Namun dakwah digital tidak berjalan di ruang netral.

Ia tunduk pada logika algoritma—sebuah sistem yang mengutamakan perhatian publik.

Konten yang emosional, dramatis, dan visual cenderung lebih mudah viral dibandingkan pesan yang sederhana tetapi mendalam.

Akibatnya, agama berisiko mengalami penyederhanaan agar sesuai dengan selera pasar digital.

Di sinilah dakwah menghadapi dilema modern: mengikuti arus algoritma atau menjaga kedalaman makna.

Kesalehan sebagai Representasi

Media sosial pada hakikatnya adalah ruang representasi diri.

Setiap unggahan membentuk narasi tentang bagaimana seseorang ingin dilihat publik.

Dalam konteks Ramadhan, ruang ini kerap berubah menjadi arena simbolik kesalehan.

Ibadah yang dahulu bersifat personal kini mudah menjadi konsumsi sosial.

Sedekah direkam, doa dibagikan, bahkan kesunyian spiritual pun kadang tampil dalam estetika visual digital.

Persoalannya bukan pada berbagi kebaikan—Islam justru mendorong keteladanan.

Namun masalah muncul ketika batas antara inspirasi dan pencitraan menjadi kabur.

Al-Qur’an telah memberi peringatan keras terhadap amal yang kehilangan keikhlasan:

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang berbuat riya’” (QS. Al-Ma’un: 4–6).

Budaya digital yang bertumpu pada likes, komentar, dan jumlah pengikut secara halus mendorong kebutuhan akan pengakuan sosial.

Tanpa disadari, ruang ibadah dapat bergeser menjadi ruang performatif, di mana kesalehan diukur dari visibilitas, bukan kedalaman spiritual.

Ujian Baru Bernama Riya’ Digital

Sejak awal Islam telah memperingatkan bahaya riya’, yakni melakukan amal demi dilihat manusia.

Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai “syirik kecil” (HR. Ahmad).

Jika dahulu riya’ terjadi dalam ruang sosial terbatas, kini media sosial memperluas panggung itu hingga skala global.

Ramadhan yang seharusnya menjadi latihan menyembunyikan amal justru berhadapan dengan budaya keterlihatan.

Paradoks modern pun muncul: semakin mudah menunjukkan kebaikan, semakin sulit menjaga keikhlasan.

Nabi SAW mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari).

Puasa pada akhirnya adalah latihan integritas moral—termasuk dalam perilaku digital.

Menjaga Ruh di Tengah Riuh

Menolak media sosial tentu bukan solusi. Teknologi hanyalah alat, dan sejarah Islam selalu menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.

Yang diperlukan adalah kesadaran etis dalam menggunakannya.

Dakwah digital perlu kembali pada substansi: menyampaikan nilai, bukan membangun citra.

Inspirasi tidak harus selalu dramatis, dan kesalehan tidak selalu membutuhkan kamera.

Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa amal yang tersembunyi memiliki nilai lebih tinggi:

“Jika kamu menyembunyikan sedekahmu dan memberikannya kepada orang fakir, maka itu lebih baik bagimu” (QS. Al-Baqarah: 271).

Ramadhan mengajarkan bahwa sebagian kebaikan justru menemukan maknanya dalam kesunyian—jauh dari sorotan publik.

Penutup

Ramadhan di era media sosial menghadirkan peluang sekaligus ujian baru bagi umat Islam.

Teknologi membuka jalan luas bagi dakwah, tetapi juga menghadirkan godaan halus berupa pencitraan religius.

Ukuran keberhasilan Ramadhan bukanlah seberapa religius linimasa kita terlihat, melainkan seberapa jujur hati kita berubah.

Sebab ibadah yang paling bernilai bukan yang paling banyak ditonton, tetapi yang paling tulus dilakukan.

Di tengah riuhnya dunia digital, pertanyaan paling mendasar bagi setiap Muslim hari ini mungkin sederhana: apakah kita sedang berdakwah, atau sekadar sedang terlihat saleh?

_Wallahu 'alam bishowab..._