BOGOR.POJOKSATU.id - Badan Gizi Nasional berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah para siswa penerima manfaat menjalani program tersebut selama satu tahun penuh.

Evaluasi ini dilakukan untuk memastikan program benar-benar memberikan dampak nyata bagi kualitas generasi muda.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pengukuran efektivitas program tidak hanya melihat aspek pemenuhan makan harian, tetapi juga menyasar indikator jangka panjang.

“Keberhasilan program ini akan diukur dari pertumbuhan fisik anak dan perkembangan otaknya,” ujar Dadan.

Menurutnya, perbaikan asupan gizi yang konsisten diharapkan mampu mendorong peningkatan tinggi badan, berat badan ideal, serta kemampuan kognitif siswa dalam jangka waktu tertentu.

Karena itu, evaluasi baru dapat dilakukan secara komprehensif setelah program berjalan minimal satu tahun.

Dalam pemaparannya, Dadan mencontohkan Jepang sebagai negara yang berhasil menerapkan program makan bergizi di lingkungan sekolah.

Ia menyebutkan bahwa dampak kebijakan tersebut dapat terlihat secara nyata pada perubahan fisik masyarakatnya lintas generasi.

“Di Jepang, ada perbedaan tinggi badan yang cukup signifikan antara generasi kelahiran 1940-an dengan generasi tahun 2000-an. Itu salah satu bukti dampak perbaikan gizi yang konsisten,” jelasnya.

Dadan menilai pengalaman Jepang dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam membangun kebijakan gizi jangka panjang.

Menurutnya, hasil program MBG tidak bisa dinilai secara instan, melainkan membutuhkan waktu agar dampaknya benar-benar terlihat.

“Program gizi itu investasi jangka panjang. Dampaknya baru terasa setelah bertahun-tahun,” katanya.

Melalui evaluasi yang akan dilakukan, Badan Gizi Nasional berharap program MBG dapat terus disempurnakan sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan.***