BOGOR.POJOKSATU.id - Jejak panjang kerusakan hutan di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah bencana alam melanda sejumlah wilayah di Sumatra.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru tanda-tandanya telah terlihat sejak bertahun-tahun lalu dan terus terekam dalam ingatan publik.

Sekitar dua belas tahun yang lalu, aktor Hollywood Harrison Ford pernah datang langsung ke Riau dalam rangka pembuatan film dokumenter tentang lingkungan.

Ketika melihat kondisi Taman Nasional Tesso Nilo yang porak-poranda oleh aktivitas pembalakan liar, ia tidak mampu menyembunyikan kemarahannya.

Ford kala itu menegur Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan karena menilai penanganan terhadap ilegal logging sangat lemah dan tidak memberikan efek jera.

Momen tersebut menjadi viral dan memicu diskusi nasional tentang betapa parahnya degradasi hutan di Indonesia. Kini, kekhawatiran yang dulu sempat disuarakan itu seakan menemukan pembenarannya.

Banjir bandang yang menerjang Sumatra dalam sepekan terakhir tidak hanya menghanyutkan rumah warga dan infrastruktur, tetapi juga membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar ke sungai dan wilayah pesisir.

Pemandangan kayu-kayu bulat yang terbawa arus deras itu menjadi bukti telanjang bahwa kerusakan hutan masih terjadi dan berkontribusi besar terhadap bencana ekologis yang kini dirasakan masyarakat.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak pernah selesai hanya dengan wacana.

Hilangnya tutupan hutan akibat penebangan liar serta lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terus menumpuk dari tahun ke tahun, hingga akhirnya menimbulkan dampak yang tak bisa lagi disangkal.

Banjir bandang yang membawa material kayu menjadi sinyal keras bahwa kerusakan hutan bukan sekadar isu konservasi, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan manusia.

Dalam konteks ini, bencana di Sumatra seolah menjadi pengingat pahit bahwa peringatan-peringatan dari masa lalu tidak boleh diabaikan.

Jika eksploitasi hutan terus berlangsung tanpa kendali, kerugian ekologis maupun sosial akan semakin besar dan berulang di masa mendatang.

Indonesia membutuhkan komitmen yang jauh lebih kuat untuk memulihkan dan melindungi hutan, sebelum kerusakan yang terjadi semakin sulit dipulihkan.